Ramadan, Makam Sunan Ampel Banjir Turis

GenPI News
Jumat, 08 Juni 2018 10:26
Nilai Artikel :

Perkiraan Menteri Pariwisata Arief Yahya tepat. Saat pariwisata secara umum mengalami low season saaat Ramadan, tren wisata religi malah sebaliknya. Grafiknya naik tajam. Meningkat pesat dibanding hari biasa.

Tengok saja di kompleks Makam SUnan Ampel, Surabaya. Setiap harinya, sekitar 100 ribu tercatat datang ke sana. Semuanya datang berduyun-duyun dengan bus, dari malam sampai pagi. Pagi sampai malam lagi. Agaknya bulan penuh berkah ini menggerakan hati banyak orang untuk menziarahi makan salah satu Wali penyebar Islam di bumi nusantara itu.

"Saat Ramadan dan jelang Lebaran, Wisatawan Nusantara memang memilih berwisata religi. Ini panen bagi orang pariwisata," sebut Menpar Arief Yahya, Jumat (8/6).

Ucapannya memang langsung terbukti. Saat H-7 Lebaran, pengunjung Masjid Sunan Ampel makin membludak. Maklum, masjid ini punya tradisi “maleman”. Dalam tradisi itu, para pengunjung membaca tahlil, tadarus, shalat sunah, dan iktikaf semalam suntuk. Tradisi ini banyak diikuti para pengunjung. Utamanya di tanggal ganjil sepuluh hari terakhir Ramadan.

Tak hanya beritikaf dan berziarah ke makam Sunan Ampel, para pengunjung tempat ini juga banyak memburu air dari sumur kuno di belakang masjid yang terletak di Surabaya ini. Para peziarah yakin khasiat air sumur itu sama dengan air zamzam di Mekah, Arab Saudi.

Ada yang sekedar menggunakannya untuk membasuh muka. Ada juga yang langsung meminumnya. Bahkan, para peziarah banyak yang membawanya pulang dengan botol-botol air mineral sebagai oleh-oleh.

Konon, sumur itu digali langsung oleh Sunan Ampel untuk keperluan berwudu. Saat ini, sumur itu ditutup besi. Namun para peziarah masih bisa mangambil airnya dari dalam gentong-gentong yang telah tersedia di belakang Masjid Ampel.

Masjid Sunan Ampel juga jadi sasaran bidik kamera para pemburu arsitektur unik. Desain masjid berpintu 48 ini kental gaya Jawa kuno. Tak ada kubah. Atapnya bersusun tiga. Seperti bangunan pendopo, masjid yang dibangun abad 14 ini ditopang oleh pilar-pilar yang jumlahnya enam belas. Tiang-tiang itu berdiameter 60 sentimeter, panjangnya 17 meter, jumlah yang sama dengan rakaat salat lima waktu. "Tempatnya memang keren. Tinggal mempromosikan saja karena destinasinya sudah sangat layak jual," ujar Menpar Arief.

Pariwisata yang baik adalah yang berdampak ekonomis. Begitupun kompleks Makam SUnan Ampel. Saat Ramadan begitu, puluhan toko penjaja beragam souvenir khas mendapat durian runtuh.  Pedagang baju gamis, kerudung, mukena, sarung, aneka aksesori buatan tangan, minyak wangi, kurma, alat musik tradisional, semuanya kebanjiran orderan.

Hasnafi misalnya. Salah seorang pedagang pakaian di kompleks makam Sunan Ampel itu mengaku panen rezeki.  “Omzet bisa dua kali lipat saat Ramadan,” akunya. 

Pedagang songkok di Makam Sunan Ampel juga bernasib sama. Penjualan songkok berbagai motif meningkat dibanding hari-hari biasa. Di sana, beragam songkok dengan aneka motif tersedia. 

 “Di penghujung Ramadan, pengunjung malah makin ramai. Saya sampai kekurangan stok barang dagangan ditambah,” timpal Hamdi, salah seorang pedagang songkok.


Editor : Paskalis Yuri Alfred P
Kontributor : Agus Purwanto




STAY CONNECTED

JOIN OUR INSTAGRAM #GENPI