Merenungi Hidup di Masjid Seribu Pintu

GenPI News
Selasa, 22 Mei 2018 15:51
Nilai Artikel :

Bulan Ramadan, enaknya ngapain kalau sedang berada di Tangerang, yah? Jangan khawatir, guys. Tengerang punya banyak spot-spot wisata religi, kok. Salah satunya adalah Masjid Pintu Seribu.

Masjid Pintu Seribu nama aslinya adalah Masjid Agung Nurul Yaqin. Berjuluk seperti itu karena memang masjid ini banyak sekali pintunya. Mungkin jika dihitung satu persatu beneran sampai seribu jumlahnya.

Lokasi yang tidak terlalu jauh dari pusat ibukota negara membuat masjid ini cocok bagi kamu yang ingin menentramkan diri sejenak dan merasakan makna puasa secara lebih mendalam. Lokasi tepat masjid ini di Jalan Kampung Bayur, Priuk Jaya, Tangerang, Banten. Atau, berada di sekitar perbatasan kota dan kabupaten Tangerang. Di  Jalan Bayur Raya.

Pengurus Masjid Agung Nurul Yaqin Mahpudin menjelaskan, masjid pintu seribu didirikan oleh almarhum Syekh Al Bakhir Mahdi. Tepatnya  tahun 1978. Selain memiliki bangunan yang luas dan panjang, masjid ini juga unik karena tidak memiliki kubah besar dan megah seperti masjid pada umumnya.

Di setiap lorong, terdapat angka 999. Dan angka ini memiliki makna tertentu. "Angka 999 yang ada di setiap lorong dan juga pagar merupakan pengabungan dari 99 nama-nama allah dalam asmaul husna dan jumlah dari 9 wali songo," jelas Mahpudin, Selasa (22/5).

Keunikannya juga ditambah dengan lorong-lorong berliku di dalam masjid ini. Langit-langit yang pendek dan cahaya yang minim membuat udara di dlamya pengap dan lembab. Jangan sekali-kali memasuki lorong itu jika tidak disertai pemandu. Karena bentuknya yang menyerupai labirin akan membuat kamu super bingung saat mencari jalan keluar.

Tapi untuk mencari ketenangan, Masjid Seribu Pintu ini tempatnya. Letaknya yang jauh dari  keramaian membuat suasana di dalam arela masjid cukup sunyi. Berada di dalam kegelapan lorong-lorong masjid akan mengingatkan kita pada alam kubur. Tidak ada cahaya, hidup dalam kegelapan, pengap, sunyi, tak ada satupun yang dapat menolong kecuali amalan selama hidup.

"Kami selalu mengajak pengunjung untuk sejenak merenung tentang kehidupan di akhirat kelak. Kemudian ayat-ayat Alquran kami lantunkan. Di saat itu juga biasanya batin pengunjung tercabik, menangis tanpa sebab. Muncul rasa takut kepada sang pencipta," imbuh Mahpudin.


Editor : Paskalis Yuri Alfred P
Kontributor : Cholis Faizi




STAY CONNECTED

JOIN OUR INSTAGRAM #GENPI