Kunjungi 10 Destinasi Sejarah di Palembang Lebaran Nanti

Palembang identik kekayaan budaya yang sangat kental dan menyimpan banyak dokumentasi sejarah. Kota yang lahir pada 17 Juni 683 ini adalah kota tertua di Indonesia. 

Menteri Pariwisata Arief Yahya sendiri sangat mendukung geliat wisata di Sumatera Selatan, khususnya Palembang. Menurutnya destinas-destinasi wisata di manapun di Indonesia harus menganut konsep keberlanjutan. “Pariwisata Indonesia sangat konsern terhadap sustainable tourism. Dalam mengembangkan pariwisata kita menerapkan prinsip; Semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan,” kata Menpar Arief Yahya, Selasa (6/5).

Oleh karena itu, ayo rencanakan perjalanan wisata ke Palembang saat libur #PesonaMudik2018 nanti. Ada banyak #PesonaDestinasiLebaran2018 yang bjuga bisa membuka  wawasan budaya maupun sejarahmu. Berikut #Top10DestinasiLebaran2018 di Palembang.

Jembatan Ampera

Jembatan Ampera merupakan landmark Kota Palembang. Jembatan yang diresmikan pada tahun 1965 ini menghubungkan bagian Seberang Hulu dan Seberang Hilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang. Tenaga ahli pembangunan jembatan ini pun berasal dari Jepang.

Benteng Kuto Besak

Benteng yang berada di Jalan Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Palembang, ini merupakan bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang. Benteng ini dibangun pada tahun 1780 dan dibutuhkan waktu 17 tahun untuk menyelesaikannya. Benteng Kuto Besak berada tepat di bantaran Sungai Musi.

Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)

Monumen ini dibangun untuk memperingati perang 5 hari 5 malam yang terjadi pada bulan Januari 1947 di Palembang.
Selain sebagai monumen, Monpera juga merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi sejarah perjuangan masyarakat Sumatera Selatan dalam menghadapi agresi militer Belanda II.

Tidak hanya mendapatkan wawasan tentang sejarah perang 5 hari 5 malam di Palembang, kalian juga bisa melihat Kota Palembang dari atap monumen.
Monpera berada di Jalan Merdeka No.1, 19 Ilir, Palembang. Letaknya yang strategis di pusat kota, membuat kalian gampang untuk mencapainya, bisa naik angkutan umum atau kendaraan pribadi.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Meseum yang berada di Jalan Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Palembang, dan berada tidak jauh dari Benteng Kuto Besak ini merupakan istana Sultan Mahmud Badaruddin II. Museum ini menyajikan sejarah kesultanan dan bagaimana Islam masuk ke Palembang.

Museum Balaputradewa

Museum Balaputradewa mendokumentasikan beragam budaya dan alam Sumatra Selatan, seperti benda sejarah bernilai histrografi, etnografi, feologi, keramik, teknologi modern, seni rupa, flora dan fauna serta geologi. Di sini juga terdapat prasasti arca kuno yang pernah ditemukan di Bukit Siguntang, batu-batu ukir raksasa dari jaman Megalitikum dan masih banyak lagi. Museum ini berada di Jalan Srijaya I No.288 KM 5,5 Palembang.

Museum Sriwijaya

Museum yang beralamat di Jalan Syakyakirti, Karang Anyar, ini menyimpan koleksi berupa artefak, ekofak, fitur maupun situs peninggalan Kerajaan Sriwijaya, kerajaan besar yang memerintah pada abad ke-7 sampai abad ke-13.

Rumah Limas

Rumah Limas merupakan rumah adat Sumatra Selatan. Atap rumah berbentuk limas dengan lantai yang bertingkat-tingkat dan mempunyai filosofi budaya tersendiri untuk setiap tingkatnya. Bukan hanya belajar budaya, di rumah yang berlokasi di Jalan Demang Lebar Daun No.51, ini kalian bisa berfoto dengan pakaian adat Palembang yang disewakan di sini.

Kampung Arab Al Munawar

Palembang memiliki beragam etnis di dalam masyarakatnya. Ada etnis Tionghoa, Arab, India, Melayu dan lain-lain. Masing-masing etnis ini terkadang hidup dalam lingkungan komunitasnya, seperti etnis Arab tinggal di Kampung Arab yang berada di Lorong Al Munawar, 13 Ulu, Palembang. Di kampung ini kita bisa belajar tentang adat budaya masyarakat Palembang keturunan Arab.

Kampung Kapitan

Kampung Kapitan merupakan kawasan seluas satu hektar yang dihuni oleh keturunan Kapitan Tjoa Ham Hin di 7 Ulu, Palembang. Kapitan berarti orang yang dipercaya mengatur sebuah wilayah pada zaman pendudukan Belanda. Menurut sejarah, kampung ini merupakan cikal bakal masuknya masyarakat Tionghoa ke Bumi Sriwijaya.

Rumah Oeng Boen Tjit

Rumah Ong Boen Tjit adalah rumah milik saudagar asal Tionghoa yang diperkirakan telah berusia 300 tahun. Oeng Boen Tjit seorang saudagar rempah yang sangat terkenal pada masanya. Rumah ini belum pernah direnovasi, paling hanya berubah warna catnya saja. Banyak mahasiswa arsitektur yang mempelajari desain rumah ini. Beberapa bagian rumah yang berada di bantaran Sungai Musi, kawasan 3-4 Ulu, ini tidak menggunakan paku, hanya disusun saling mengait saja.

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS