Puluhan Ribu Wisatawan di Bakar Tongkang 2018

Masyarakat Tionghoa di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, menggelar puncak ritual Bakar Tongkang pada hari Sabtu (30/6) silam. Diperkirakan 69.000 wisatawan nusantara dan mancanegara menyaksikan perhelatan ini. 

Tongkang yang dibakar adalah sebuah replika dengan beragam hiasan. Bakar Tongkang dikenal juga dengan sebutan Go Ge Cap Lak, yang menunjuk waktu pelaksanaannya, yaitu setiap tanggal 16 pada bulan kelima dalam penanggalan tradisional Tiongkok.

Bakar tongkang merupakan ritual tahunan yang dilakukan sejak 134 tahun lampau. Ritual ini bertujuan untuk mengenang nenek moyang masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi. Bakar Tongkang juga perwujudan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah melindungi nenek moyang mereka selama dalam perjalanan dari daratan Tiongkok ke Bagansiapiapi.

Ritual ini bermula pada tahun 1820. Kala itu, sekelompok masyarakat Etnis Tionghoa dari Provinsi Fujian, Tiongkok, berlayar untuk mencari kehidupan baru yang lebih baik. Setibanya di daratan yang kini dikenal dengan Bagansiapiapi, sebuah kota yang berada di muara Sungai Rokan, para perantau ini sepakat bahwa mereka tidak akan kembali ke daerah asalnya. Kesepakatan untuk tidak kembali ini ditandai dengan membakar tongkang kayu sederhana yang mereka tumpangi sebelumnya. 

Bakar Tongkang kemudian menjadi ritual yang dilakukan terus menerus dari generasi ke generasi. Sebelum dibakar. replika tongkang diarak mengelilingi Kota Bagansiapiapi. Arak-arakan ini sangat menarik perhatian, sehingga ribuan masyarakat dan wisatawan menyemut di tepi jalan yang akan dilalui arak-arakan. Saat replika tongkang melintas, masyarakat Etnis Tionghoa berdoa meminta keberkahan kepada Sang Pencipta. 

Selesai diarak, replika tongkang diletakkan di sebuah lapangan di Jalan Perniagaan, Bagansiapiapi. Tumpukan kertas kuning atau disebut juga Kim Cua menjadi alas dari replika tongkang itu. Sekitar pukul 16.00 WIB, api mulai melalap tongkang.

Sembari melihat tongkang yang terbakar, doa-doa terus dipanjatkan. Ada kepercayaan bahwa peruntungan mereka setahun ke depan sesuai arah jatuhnya tonggak kayu yang dipasang pada tongkang. Peruntungan ditentukan dua arah, yaitu utara dan selatan atau laut dan darat. Pada proses bakar tongkang pekan lalu, tonggak jatuh ke arah selatan, maka diyakini rezeki tahun ini akan lebih banyak di darat.

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS

KULINER

My Trip Story

Oleh:
Anggi Agustiani
Reporter