3 Tradisi Ramadhan di Jakarta yang Sudah Hilang

bleguran, salah satu tradisi Ramadhan di Jakarta yang sudah hilang. (Foto: Indonesia Heritage)
bleguran, salah satu tradisi Ramadhan di Jakarta yang sudah hilang. (Foto: Indonesia Heritage)

GenPI.co - Di beberapa daerah, kearifan lokal yang menjadi buah dari proses inkulturasi Islam ke dalam budaya Nusantara selama berabad–abad,   tetap dilaksanakan jelang ramadhan. Namun tidak di Ibukota. Beberapa tradisi Ramadhan di Jakarta sudah hilang.  Deru perkembangan jaman menggerus tradisi-tradisi yang sebelumnya menjadi bagian yang ditunggu saat Ramadhan tiba.

Berikut beberapa tradisi Ramadhan di Jakarta yang sudah hilang.

Baca juga: 11 Ramadhan, Hari Ini Khadijah Istri Nabi Muhammad SAW Tiada 

Padusan di Ciliwung

Di era 60 hingga 70-an masyarakat Jakarta melakukan tradisi padusan di Kali ciliwung. Wajar saja, sebagian dari penduduk Jakarta adalah perantau-perantau dari Jawa Tengah dan Timur. Mereka membawa tradisi  dari kampung halaman.

Namun sekarang, jangan harap bisa melihat padusan di Ciliwung jelang Ramadhan. Salah satu alasannya mungkin lantaran keadaan air sungai yang butek keruh membuat orang enggan. 

Memukul bedug

  tradisi Ramadhan di Jakarta yang sudah hilang adalah memukul bedug. Pada masa lalu bedug bisanya digunakan masyarakat untuk membangunkan umat muslim saat jam sahur dan sebagai pertanda saat waktu buka puasa telah tiba. Tak hanya itu, masyarakat Jakarta juga sering menggunakan bedug sebagai kelangkapan pawai. Tapi sekarang bedug itu sulit ditemukan.

Bermain Bleguran

Sekitar tahun 70-an, warga Jakarta menunggu waktu berbuka dengan bermain bleguran atau meriam bambu. Para remaja akan pergi ke kebun untuk mencari bambu ketung yang memiliki rongga besar sebagai dasar membuat bleguran. Sementara yang lain membawa minyak tanah. 

Bleguran biasanya  dimainkan pada malam hari. Sayangnya, sempitnya lahan terbuka di Jakarta membuat tradisi bleguran sudah jarang ditemukan bahkan tidak ada lagi. Bleguran menjadi tradisi Ramadhan di Jakarta yang sudah hilang.

Simak juga video menarik pilihan redaksi berikut


Reporter: Mia Kamila

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Landy Primasiwi
Reporter
Landy Primasiwi

KULINER