Nyadran Giyanti Angkat Kebangkitan Tari Lengger Punjen

Tarian Lengger Punjen (foto: Wening Tyas)
Tarian Lengger Punjen (foto: Wening Tyas)

 

Nyadran Giyanti merupakan upacara sebagai bentuk rasa syukur atas berkah yang melimpah dan keselamatan. Puncak penyelengaraannya dilakukan pada Jumat Kliwon (27/9/2019).

Ritual dilakukan di Dusun Giyanti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, Wonosobo. Acara ini juga sudah dikenal sebagai wisata budaya dan juga menjadi potret kerukunan antar-umat beragama.

Rangkaian acara Nyadran Rakanan sudah dilaksanakan sejak memasuki bulan Suro, yaitu pada 1 September 2019.

Diawali dengan ziarah kubur ke sesepuh desa Mbah Monyet, Mbah Mertoloyo dan Mbah Patih. Dilanjutkan dengan Kirab Tenong yang diikuti oleh kelompok kesenian, peserta wisuda lengger, para ibu.

loading...

Berlanjut dengan puncak Rakanan Giyanti yang diisi dengan doa, pembacaan sejarah Giyanti, pentas kesenian, hingga rayahan tenong oleh warga. 

Kemudian dilaksanakan Jamasan Lengger, malamnya prosesi Kobol-Kobol dan wisuda Lengger. Dilanjutkan dengan pagelaran wayang.

Tatag Taufani Anwar, Plt. Kades Kadipaten mengungkapkan bahwa agenda tahunan itu tidak pernah luput dari perhatian para wisatawan, bahkan dari luar Wonosobo.

“Dengan tema Awakening of Lengger Punjen, Rakanan Giyanti bisa mewujudkan inovasi lewat keaslian kesenian dari Wonosobo,” kata Tatag. 

Lengger Punjen khas Njanti ini harapannya bisa semakin dikenal. 

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Eko Yuwono, mengapresiasi agenda yang didukung oleh seluruh masyarakat ini. 

Eko menambahkan, potensi seni budaya lokal adalah salah satu aset terbesar pariwisata.

“Rakanan Giyanti, sebagai event budaya akan menumbuhkan budaya lokal. Seniman, budayawan  akan ikut berkembang dengan karya yang dilahirkannya,” ungkapnya.

Ketua acara Rakanan Giyanti, Ahnaf Kustanto  mengungkapkan bahwa agenda tahunan ini sudah masuk ke dalam Calendar of Event Kabupaten Wonosobo.

“Mulai dari membuat tenongan, menyiapkan panggung, sampai membersihkan tempat pagelaran seni, semua warga terlibat dan gotong royong. Jika dihitung secara nominal dari keseluruhan acara, bisa mencapai sekitar Rp 500 juta,” kata Ahnaf.

Sabtu (28/9/2019) siang berlangsung rangkaian acara seperti prosesi Mesusi Beras, Lomba balon Sarung dan juga pagelaran wayang kulit. Acara Nyadran Rakanan Giyanti pun tuntas di Minggu dini hari.

Kalian wajib tonton video yang satu ini:


Redaktur : Linda Teti Cordina

BERITA LAINNYA

TANYA AHLI

Berita Tentang Baca Buku Terbaru dan Terkini Hari ini


PARENTING