Cerita Horor: Jimat Pelaris itu Memenjara Jiwa Si Mbah

Ilustrasi prempuan tua. (Foto: Yurialfred)
Ilustrasi prempuan tua. (Foto: Yurialfred)

GenPI.co - Siang itu begitu panas. Rimbun  pohon jati yang tumbuh berbagi tempat dengan dengan pohon-pohon mangga, rambutan dan jambu mete di halaman tak mampu menghalau mentari  yang menghajar bumi tanpa ampun. Sementara udara diam tak bergerak lantaran sang bayu enggan bertiup. Mungkin turut merasa gerah.

Penghuni dusun ini terus berdatangan. Menjejali sebuah rumah joglo berdinding rendah dengan atap yang menjulang. Keadaan di dalamnya pun terasa sumuk. Gerah, pastinya. Namun semuanya tampak maklum dengan kondisi itu.

Para warga duduk bersimpuh di atas hamparan tikar plastik yang disediakan. Beberapa tampak saling bercakap-cakap  dengan suara rendah sehingga terdengar seperti gumaman. Sementara yang lain diam saja sembari memandangi peti jenazah yang teronggok persis di tengah-tengah ruangan, melintang di antara dua dari empat soko guru yang menyanggah atap rumah itu.

Baca juga:

Cerita Horor: Pocong Mengerikan di Hutan Kota Sudut Jakarta

Aku ada di situ, melakukan tugasku menyalami tetamu yang  terus mengalir masuk. Sesekali kuarahkan kameraku  untuk menjepret keramaian di rumah itu, mencoba menangkap wajah-wajah duka dari orang-orang yang hadir di situ.

Peti itu berwarna coklat tua. Entah terbuat dari kayu apa. Di dalamnya bersemayam tubuh renta seorang perempuan. Kulit wajahnya keriput dan tampak kelabu, tanda kehidupan di dalamnya telah punah. Sebab sukmanya telah kembali pada Sang Khalik.


Cerita Horor: Jimat Pelaris itu Memenjara Jiwa Si Mbah
Ilustrasi Joglo. (Foto: perpustakaan.id)


RELATED NEWS