Lenggak-lenggok Kato di Tepian Sungai Siak

Pertunjukan tari Kato di Kabupaten Siak (Foto: Himawan saputra)
Pertunjukan tari Kato di Kabupaten Siak (Foto: Himawan saputra)

Dua wanita muda berlenggak-lenggok dengan lincahnya di bawah cahaya temaram. Gerakan mereka berhasil memantik perhatian dari ratusan pasang mata di pembukaan Festival Siak Bermadah (FSB), Rabu (10/10) malam.

Dua  penari itu melakukan gerakan tangan dengan menggunakan selendang yang dihentakkan, sehingga selendang menyangkut di pergelangan tangan. Setelah itu selendang dilempar ke lantai

Itu adalah sebuah tarian kreasi baru bernama Kato. Tarian itu adalah kolaborasi antara koreografer Vita Oktaviana dari Tim Ikkon, Badan Ekonomi Kreatif RI, dengan dua penari dari sanggar Tasek Seminai, yaitu Syaputri dan Novelia Saputri.

Tarian ini disajikan diatas kapal feri yang bersandar diatas tepian sungai Siak. Iringam musik bernuansa melayu serta dihiasi kemilau tata cahaya lampu panggung yang berwarna warni membuat atraksi ini semakin dramatis.

FSB sendiri ditaja oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Siak.  Bupati Siak, H Syamsuar yang membukanya secara resmi. Kegiatan yang dihadiri ratusan pengunjung itu, menyajikan berbagai atraksi seni pertunjukan, diantaranya tari Kato.

Koreografer tari Kato, Vita Oktaviana, saat berbincang-bincang dengan tim liputan GenPI menuturkan, ide awal tarian Kato lahir ketika melihat Kapal kato. Itu adalah sebuah kapal peninggalan kerajaan Siak pada abad ke 17.  Dengan kapal tersebut  Sultan Siak, kerap berkunjung ke daerah-daerah kekuasaannya.

“Pengalaman datang ke Siak melalui jalur sungai mencetuskan ide panggung di atas sungai. Saya kemudian mencoba menggali hubungan sungai dengan istana Siak, lalu dapatlah kapal kato milik sultan dan ceritanya yang bisa diangkat dalam bentuk tarian,” ujar Vita, Koreografer wanita yang juga aktif di Teater Satu di Lampung itu.

Koreografer yang telah tampil di panggung di dalam dan luar negeri itu mengungkapkan, proses penggarapan tari Kato memakan waktu 2 hingga 3 bulan. Ide gerakan tarian berkolaborasi dengan Syaputri dan Novelia Saputri dari Sanggar Tasek Seminai. Sementara panggung adalah hasil kreativitas arsitek tim Ikkon Adisty Kusumawardani. Desainer fashion tim Ikkon Dede Ananta kebagian merancang kostum tari itu.

Sementara Bupati SIak dalam sambutannya menghimbau kepada masyarakat yang hadiragar  menjadi tuan rumah yang ramah dan bersahabat bagi semua pelancong yang berkunjung.

 “Mari kita tunjukan kepada dunia, bahwa kita masyarakat melayu yang ramah. Tuan rumah destinasi wisata yang insya Allah siap bersaing di pulau Sumatera,” kata H Syamsuar ketika membuka FSB, di lapangan Siak Bermadah, Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Festival Siak Bermadah dihelat selama tiga hari, dimulai tanggal 10 hingga 12 Oktober 2018. Turut hadir pada acara pembukaan festival itu, Sekretaris Badan Ekonomi Kreatif RI, Krisna Kusuma dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Fahmizal Usman. Tampak pula delegasi seniman dan budayawan dari Johor dan Kuala Lumpur, serta utusan dari Kabupaten dan Provinsi tetangga.

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS