Tikar Gorontalo, Amongo Tiohu dan Amongo Tiladu

Kerajinan tangan tikar tradisional (Amongo) di Desa Motilango, Duhiadaa Kabupaten Pohuwato. (Foto: Iswan Abas)
Kerajinan tangan tikar tradisional (Amongo) di Desa Motilango, Duhiadaa Kabupaten Pohuwato. (Foto: Iswan Abas)

Masyarakat Gorontalo terampil menganyam sejak dulu.  ini dibuktikan dengan banyaknya produk atau benda yang dibuat dengan cara menganyam.  Beberapa di antaranya adalah upiah karanji (songkok),  lubungo (tempat bertelur dan mengeram ayam), hingga tikar atau amongo.

Kerajinan ini masih ditekuni oleh warga Gorontalo di beberapa desa. Mereka masih menganyam tikar dan upiah karanji sebagai komoditas yang dijualbelikan kepada masyarakat.

“Masyarakat Gorontalo mengenal 2 macam tikar, amongo tiohu dan amongo tiladu,” ujar Masri Karim, warga Gorontalo, kamis (21/2).

Dua macam ini menunjukkan pada ukuran bahan yang dijadikan bahan baku, yang besar (tiohu) dan kecil (tiladu). Tikar ini difungsikan sebagai alas tidur, atau lainnya. Dalam dunia modern, tikar telah digantikan fungsinya oleh karpet.

Di pinggiran Danau Limboto, tanaman bernama Typha latifolia  atau masyarakat menyebut peyapeya yang tumbuh di air sebagai bahan baku tikar.

Warga Desa Pilobuhuta Kecamatan Batudaa  kabupaten Gorontalo memanfaatkan bagian batang dan daun untuk dibuat anyaman tikar. Proses pembuatan anyaman tikar ini dikenal dengan nama Mohalamo,” kata Jemi Monoarfa, penggiat pertanian di Gorontalo.

Menurutnya, dalam tradisi masyarakat, tikar sangat berperan penting. Salah satunya untuk tata cara atau  prosesi adat Molonthalo7 bulanan bagi ibu yang mengandung. Anyaman yang digunakan dalam adat ini tanpa warna.


Jemi Monoarfa juga menjelaskan, pandan duri atau pandan samak yang tumbuh liar juga digunakan untuk membuat tikar. Tanaman ini disebut juga sebagai pandan pudak (Pandanus tectorius), merupakan sejenis tumbuhan anggota suku Pandanaceae yang biasa ditemui di sekitar.


RELATED NEWS