Keceriaan Anak Pulau Penyengat Bermain Gasing

Anak-anak Pulau Penyengat bermain gasing di halaman Gedung Tabib. (Foto: Milyawati)
Anak-anak Pulau Penyengat bermain gasing di halaman Gedung Tabib. (Foto: Milyawati)

Zaman modern seperti saat ini yang namanya gadget sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat dewasa, remaja, bahkan anak kecil. Gadget atau sering disebut handphone adalah suatu alat komunikasi modern yang mempunyai banyak fungsi yang canggih. 

Tak heran jika anak-anak sekarang lebih memilih memainkan gadget di dalam rumah ketimbang memainkan permainan tradisional bersama teman-teman di luar. Tapi, saat kamu berada di Penyengat terdapat pemandangan yang berbeda.

Disana kamu akan menemukan anak-anak kecil yang bermain permainan zaman dulu yaitu pangkak gasing.  Salah satunya bernama Ucop.

Baca juga: Rumah Tua Milik Tabib Zaman Kerajaan Riau-Lingga Diburu Milenial

Pangkak gasing merupakan permainan yang dilakukan menggunakan alat berupa gasing dan tali penarik. Gasing merupakan sebongkah kayu berbentuk lonjong (simetris radial) dengan diameter sekitar 10-15 centimeter. Tinggi sebuah gasing adalah sekitar 15-20 centimeter dengan salah satu ujung dibuat lancip dan memiliki permukaan yang licin. Pada ujungnya, dipasang bahan logam sebagai poros putaran biasanya menggunakan paku. 

Seutas tali berada di sebelah tangan kanan dan sebongkah kayu berbentuk bundar di tangan kirinya. Sebuah bola kayu itu dipanggil dengan sebutan gasing. Tali dililit dengan erat dan kuat pada gasing. Dengan teknik dan keberanian yang ia miliki, tak ada rasa takut untuk memangkak gasing lawannya yang berbadan lebih besar dari dirinya.

Berbaju kurung warna merah jambu, dengan warna kulit yang putih. Anak ini bermain di halaman sekolah Madrasah Diniyah Awaliyah Salafiyah. Tak jauh dari Gedung Tabib Penyengat. “Kami main-main saja. Sambil nunggu jam sekolah masuk.” ujarnya dengan logat melayu.

Ucop mengatakan gasing-gasing yang dia miliki dibeli dari salah seorang pemahat, bernama Napi. Harga yang dijual bervariasi, mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 60 ribu. Tergantung dari jenis kayu yang digunakan. Untuk yang agak murah biasanya memakai jenis kayu Akasia dan untuk kualitas yang lebih bagus yakni kayu Jati dan kayu Bakau.

Redaktur : Cahaya

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Mia Kamila
Reporter
Mia Kamila

KULINER