Sulit Kerjakan Soal Matematika, Pakai Ethnomatika Saja!

Ilustrasi memecahkan soal matematika bisa menggunakan ethnomatika (foto: Antara)
Ilustrasi memecahkan soal matematika bisa menggunakan ethnomatika (foto: Antara)

GenPI.co— Jika kamu kesulitan memahami soal matematika, jangan khawatir karena ada metode belajar yang dikombinasikan dengan budaya.

Tiga dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkenalkan metode ethnomatika dan merilis bukunya.

Metode mengajar matematika, dengan menggunakan budaya sebagai medianya. Cara ini membuat matematika menjadi lebih realistis.

"Keanekaragaman budaya Nusantara menjadi identitas suatu bangsa, khususnya Indonesia. Hal ini yang mengilhami kami," kata pengajar UMM, Dyah Worowirowirastri Ekowati, Sabtu (20/4).

Baca juga: Liburan Sekolah, Yuk Wisata ke Gunungkidul

Selain Dyah, ada dua dosen PGSD UMM lain yang juga berkecimpung dalam penulisan buku Ethnomatika tersebut, yakni Dian Ika Kusumaningtyas dan Nawang Sulistrani.

Dyah mengatakan ethnomatika berasal dari gabungan dua kata, yaitu etnik atau kebudayaan dan matematika. 

Dengan begitu, siswa tidak hanya belajar matematika, tetapi mereka juga bisa mengenal budaya Nusantara lewat mata pelajaran itu.

Menurut Dyah, ethnomatika pertama kali diperkenalkan oleh D'Ambrosio, seorang matematikawan asal Brasil pada 1977. 

Namun dalam perjalanannya mengalami perkembangan, dan mulai dikenal luas di berbagai belahan dunia. Karena pembelajarannya yang lebih efektif dan simple, melalui media yang ada di sekitar siswa.

Matematika diajarkan secara realistis. Misal permainan engklek, secara tidak langsung siswa juga belajar matematika saat melewati petak yang sudah diberi angka, dan menghitung jumlah angka yang dilewati. 

Selanjutnya, membentuk rumah adat yang terdiri atas sejumlah bangun datar.

Penerapan buku Ethnomatika ini telah dilakukan di sejumlah sekolah. Merupakan bagian dari pengembangan program Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) dalam pembuatan buku bagi dosen. (ANT)

Redaktur: Linda Teti Cordina

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Landy Primasiwi
Reporter
Landy Primasiwi

KULINER