Bupati Tabanan Bentuk BP Warisan Budaya Dunia Jatiluwih

Bupati Tabanan Bali, Ni Putu Eka Wiryastuti (kedua kiri) saat memimpin Rapat Kordinasi pembentukan Badan Pengelola WBD. (dok)
Bupati Tabanan Bali, Ni Putu Eka Wiryastuti (kedua kiri) saat memimpin Rapat Kordinasi pembentukan Badan Pengelola WBD. (dok)

GenPI.co - Bupati Tabanan Bali, Ni Putu Eka Wiryastuti akan membentuk Badan Pengelola Warisan Budaya Dunia (WBD) Jatiluwih.

“Untuk saat ini status Jatiluwih adalah situs cagar budaya yang berlandaskan Undang-Undang no 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Kami akan segera berkordinasi dengan Provinsi Bali, Kemenko PMK, Kemendikbud, Bappenas, Kementan, KemenPUPR, dan intansi terkait lannya untuk segera membentuk Badan Pengelola WBD tersebut dan merubah statusnya menjadi kawasan cagar budaya," ujar Bupati Eka saat rapat kordinasi di Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, kemarin. 

Bupati Eka memaparkan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai program untuk mensejahterakan petani Jatiluwih. “Kami tidak menerima dana apapun dari UNESCO sebagai pemberi status WBD, namun kami terus berusaha untuk mensejahterakan petani kami," tandasnya.

BACA JUGA: Candi Batujaya Situs Warisan Budaya Nasional Terbaru

Untuk itu, kata Bupati Eka, program yang kami lakukan adalah pembebasan pajak bumi bangunan kepada para petani, memberikan susidi bibit dan pupuk, asuransi jika terjadi gagal panen, memberikan pelatihan untuk mengolah hasil pertanian, membeli hasil pertanian dengan harga yang tinggi, pemberian asuransi kesehatan dan santunan kematian serta program pro petani lainnya.

“Lahan pertanian di Jatiluwih pun dilindungi oleh Perda Nomor 6 Tahun 2014 tentang kawasan jalur hijau, perbup nomor 27 tahun 2011 tentang penetapan sawah berkelanjutan sebagai sawah abadi, perbup nomor 34 tahun 2011 tentang penetapan kawasan pelestarian warisan budaya”, tambahnya.

Bupati Eka menjelaskan Jatiluwih memiliki saluran irigasi yang sangat baik. “Sejak 2012 kawasan Jatiluwih telah dijadikan Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. UNESCO menetapkan Jatiluwih karena dianggap memiliki kebudayaan untuk menjaga tata kelola persawahan dengan sangat baik, dan sulit dipertahankan di zaman sekarang", imbuhnya.


Redaktur: Cahaya

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Mia Kamila
Reporter
Mia Kamila

KULINER