Situs Megalitik Pagaralam, Mengupas Sejarah di Zaman Batu

Situs Megalitik Pagaralam, Mengupas Sejarah di Zaman Batu - GenPI.co

Pagaralam, Sumatera Selatan tidak hanya mempunyai pemandangan alam yang indah, bumi besemah ini juga merupakan tempat kebudayaan megalitikum. Di sini peserta Pagaralam Heritage Trail 2018 diajak kembali ke masa lampau untuk mengupas sejarah di zaman Batu.

Perbukitan hutan tropis yang terapit Bukit Barisan dan Gunung Dempo memang menjadikan wilayah ini kaya akan bebatuan cadas. Bebatuan beku dari jenis andesit inilah yang kerap digunakan oleh manusia pra sejarah untuk membuat berbagai karya spektakuler, seperti arca, lesung batu, kubur batu, dolmen, dan menhir.

Menurut Kedispar Pagaralam Samsul Bachri pernah seorang  peneliti berkebangsaan Belanda Van der Hoop datang ke wilayah ini. Berdasarkan penelitannya, di Pagaralam ditemukan 22 area yang diyakini merupakan lingkungan situs megalitik dari zaman pra-sejarah. Dari berbagai area tersebut ditemukan artefak-artefak, namun sebagian besar kondisi artefak sudah banyak yang rusak, dan sebagian lagi masih terkubur dan belum terindentifikasi.

"Artefak rusak bisa karena alam atau tangan manusia. Karena masyarakat belum banyak yang tahu," kata Samsul Bachri, Minggu (8/12).

Arca megalitik dari situs-situs yang ditemukan di Pagaralam, kata Samsul,  dibedakan menjadi dua jenis. Jenis pertama menggambarkan satu wujud rupa atau sosok tunggal, yaitu berupa manusia atau hewan. Sedang kategori kedua menggambarkan lebih dari satu rupa atau sosok jamak, menggambarkan sosok manusia dengan manusia atau manusia dengan hewan.

"Batu beghibu merupakan salah satu situs yang ditemukan di Pagaralam, tepatnya di tengah persawahan di Desa Tegur Wangi. Menurut catatan sejarah, situs batu beghibu diyakini sebagai bekas tempat pemukiman penduduk dan tempat pemujaan bagi masyarakat setempat di masa lampau. Bagi masyarakat setempat saat ini, Desa Tegur Wangi Lama merupakan wilayah yang sejak dulu dianggap suci dan sakral," tutur Samsul.

Batu megalitik yang ditemukan di tengah sawah dahulu digunakan sebagai tempat upacara adat pemakaman tokoh sepuh masyarakat yang meninggal dunia. Ketika ada sesepuh yang meninggal, masyarakat meletakkan sesaji di depan arca, dolmen, dan menhir. Bagi masyarakat purbakala, kematian seseorang merupakan suatu hal yang dianggap sakral. Karenanya, tidak mengherankan jika pada upacara kematian, masyarakat dihiasi dengan pakaian dan perhiasan. Hal tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada jenazah yang akan dimasukkan ke dalam kubur batu.

Menurut catatan yang tertera pada situs, ketika ada kematian orang yang dianggap sesepuh, masyarakat digambarkan mengenakan pakaian adat dan perhiasan yang disebut dengan beghibu. Beghibu merupakan sebutan untuk perhiasan berupa subang atau anting-anting yang bertahtakan berlian. Karena mitos itulah situs purbakala tegur wangi oleh masyarakat sekitar disebut dengan situ batu beghibu.Sementara di tempat lain, masih dalam kawasan bumi besemah Pagaralam, tepatnya di Desa Tanjung Ato, terdapat situs megalit lain yang oleh masyarakat disebut dengan situs manusia dililit ular.

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Berita Sebelumnya