Ajojing Di Konser Musik Malaka? Ayo Mampir Ke Cagar Alam Maubesi

Cagar alam hutan bakau Maubesi (Sumber: jelajah wisata)
Cagar alam hutan bakau Maubesi (Sumber: jelajah wisata)

GenPI.co - Traveler, Konser Musik Perbatasan Malaka dan Kefamenanu 2019 sebentar lagi digelar pada 24-25 April mendatang, sempatkan mampir ke Cagar Alam Maubesi. Tak hanya menikmati alunan musik dari musisi ternama, para pengunjung dapat mengeksplorasi kawasan wisata di kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, salah satunya adalah Maubesi.

Beluma banyak yang tahu, Maubesi merupakan destinasi berupa cagar alam yang dangat eksotis. Lokasinya berada di wilayah Fahiluka, Malaka Tengah. Garis pantainya menyatu dengan hijau hutan yang ada di sekitarnya. 

“Maubesi ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan Nomor 394/Kpts/Um/5/2011. Total luas yang dimiliki sekitar 3.246 hektare. Wisatawan akan mendapatkan banyak experience selama berada di sana,” ungkap Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani, Sabtu (20/4) malam.

Di Maubesi, wisatawan akan menemukan garis perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Titik perbatasan ini berada di Distrik Suai. Persisnya 4 Kilometer arah timur Maubesi. Penandanya berupa Sungai Telus atau cabang dari Sungai Benanain.

Destinasi tersebut menjadi favorit masyarakat ke-2 negara. Ada banyak warga Timor Leste yang menyeberang untuk menikmati eksotisnya Maubesi. Pada 2016, rata-rata pengunjungnya mencapai 2.000 orang per bulan. Puncak pergerakan wisatawan terlihat maksimal hingga 10.000 orang pada pesta akhir tahun 2016. 

Harga tiket bervariasi menurut kelas umur. Mendukung mobilitas wisatawan, Maubesi ditopang akses jalan bagus dengan waktu tempuh maksimal 50 menit dari Betun. Jaraknya sekitar 15 Kilometer.

“Selain alamnya beserta teritorial negara, wisatawan juga bisa menikmati sisi budaya masyarakat. Apalagi, masyarakat di kawasan Maubesi terkenal ramah kepada wisatawan,” lanjut Ricky.

Di dalam kawasan Maubesi, terdapat Pantai Motadikin lengkap dengan perkampungan nelayannya. Garis Pantai Motadikin mencapai sekitar 10 Kilometer. Sepanjang garis pantai bertebaran rumah warga yang didiami sekitar 220 keluarga. 

Pemandangannya pun makin klasik dengan banyaknya perahu yang berjejer. Pada salah satu sudutnya terdapat delta dan muara Sungai Benanain. Muara Sungai Benanain terkenal dengan udang dan bandengnya. Komoditi tersebut tentu menjadi salah satu oleh-oleh terbaik.

“Udang dan Bandeng sangat menonjol di kawasan Benanain. Komoditinya bagus dan selalu segar. Area ini juga banyak berdiri kedai. Mereka menjual banyak kuliner olahan komoditi tersebut,” imbuh Ricky.

Selain kuliner, nuansa tradisional juga tersaji di sudut lain Maubesi. Adalah Kampung Adat Maneken yang hanya berjarak 150 meter dari jalan utama Pantai Motadikin.

Sobat GenPI, jangan lupa mampir ke Maubesi saat menghadiri KMP yah.

Reporter: Hafid Arsyid

Redaktur: Maulin Nastria

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Landy Primasiwi
Reporter
Landy Primasiwi

KULINER