Megengan, Tradisi Perantau Muslim di Denpasar Jelang Ramadhan

Megengan masyarakat muslim di Bali. (Foto: AntaraNews)
Megengan masyarakat muslim di Bali. (Foto: AntaraNews)

GenPI.co - Nuansa Ramadhan mulai menyeruak di seuruh Nusantara. Di Denpasar, Bali, muslim perantau setempat mengadakan tradisi ‘megengan’ atau kirim doa. Seperti yang dilakukan jamaah Musala   Al-Hidayah Gatsu, Denpasar, Rabu (1/5) malam.  Mereka menggelar megengan  dan bersedekah makanan dan minuman.

"Karena kampung halaman kami jauh dan kita tidak bisa berziarah ke makam orang tua menjelang Ramadhan, maka kami kirimkan doa dari sini," kata Pembina Yayasan Al-Hidayah Gatsu, H Daldiri, saat memimpin ‘megengan’  di musala  setempat.

Menurut dia, tradisi ‘megengan’ atau ‘kirim doa’ dilakukan setiap tahun untuk menunjukkan bakti (berbakti) kepada orang tua yang telah meninggal dunia.

"Inti dari tradisi yang kita warisi dari leluhur kita di Jawa itu memang mendoakan orang tua dan leluhur yang sudah lama meninggal dunia, sekaligus bersedekah," kata H   Daldiridi hadapan ratusan jamaah musala.

Megengan dilangsungkan setelah Shalat Maghrib hingga pukul 20.30 Wita.  Jemaah musala memberikan sedekah nasi kotak untuk "megengan" kepada panitia sejak sore. Kemudian panitia menyodorkan kertas untuk diisi dengan nama-nama leluhur yang akan dikirimi doa.

Di sini keunikan tradisi tersebut. Setelah terkumpul, ratusan nama leluhur yang dikirimi doa itu dibagi rata kepada beberapa pengurus untuk dibaca secara bersama-sama. Karena jika dibaca oleh satu orang akan memerlukan waktu yang lama, apalagi setiap jamaah musholla itu menyetorkan 3-5 nama leluhurnya.

Hanya sekitar 10-15 menit, ratusan nama leluhur itu pun selesai dibacakan, lalu H Daldiri dan 3-4 pengurus musholla pun memimpin pembacaan yasin dan tahlil yang diikuti seluruh jamaah yang hadir, baik laki-laki maupun perempuan.


Maka acara selesai dan nasi kotak yang ada pun dibagikan kepada jamaah yang hadir untuk dibawa pulang.


RELATED NEWS