Novel Saman: Sebuah Kisah Cinta dan Ketidakadilan Masa Orde Baru

Novel Saman: Sebuah Kisah Cinta dan Ketidakadilan Masa Orde Baru - GenPI.co
Novel Saman (Instagram/@cepubacabuku)

GenPI.co - Saman adalah sebuah novel yang tak begotu tebal, tidak njelimet tapi benar-benar bagus. Komposisi banyak sekali. Mulai dari politik, religi, seks, budaya, dan masih banyak lagi.

Sosok utama lahirnya novel Saman adalah Ayu Utama. Ia dikenal sebagai seorang novelis hebat di Indonesia setelah karya pertamanya, Saman beredar. Namun sebelum menjadi novelis, Ayu juga pernah bekerja sebagai jurnalis di beberapa media besar yang ada di Indonesia.

Judul Saman sendiri diambil dari nama samaran tokoh utama bernama Athanasius Wisanggeni. Ia adalah seorang Pastor di Gereja kecil Prabumulih, Sumatera Selatan.

BACA JUGA: Tewasnya Gagak Hitam: Membongkar Teka-Teki Dua Kematian Misterius

Diceritakan Wisanggeni pernah menjadi pembimbing empat sahabat, yaitu Laila, Yasmin, Cok, dan Skhuntala. Novel ini juga bercerita tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh 4 sahabat tadi. Laila yang terlanjur mencintai Sihar, lelaki yang sudah mempunyai istri.

Yasmin, dan Laila yang sama-sama mencintai Saman. Skuntala yang tidak disukai keluarganya karena perilakunya, dan yang terakhir ialah Cok, yang sering berganti pasangan.

Penulis juga menyajikan ketidakadilan pemerintah pada zaman orde baru yang merenggut hak petani karet. Mereka dipaksa harus menyerahkan perkebunannya untuk diganti perkebunan karet dengan paksa.

Jika tidak, para petani akan dipaksa dan diancam. Ancaman tersebut berupa lahan mereka dibakar, perempuan di dusunnya diperkosa, sampai penyekapan orang-orang yang ikut campur dan Saman salah satunya.

Tonton video ini:

Berita Selanjutnya
Nusantara