Keris Kang Trotong, Buku Kumpulan Status Facebook Sang Kyai

Bedah buku Keris Kang Trotong bersama budaya lokal Wonosobo. (Foto: Erwin)
Bedah buku Keris Kang Trotong bersama budaya lokal Wonosobo. (Foto: Erwin)

GenPI.co - Media sosial Facebook digunakan untuk menyalurkan nilai-nilai keilmuan, khususnya ajaran Islam, maka menjadi manfaat bagi banyak orang. Itulah gambaran dari apa yang dilakukan oleh KH Chaedar Idris. Ia adalah  penulis buku bersampul warna hijau setebal 438 halaman bertajuk Keris Kang Trontong.

Selasa (21/5) petang, buku itu dibedah bersama para budayawan lokal, Wonosobo. Agenda yang dihelat di serambi masjid Al Manshur Kampung Kauman itu diikuti para santri, pelajar, mahasiswa, akademisi, pengajar, hingga masyarakat umum yang mengunjungi Masjid untuk ngabuburit.

KH Chaedar menuturkan, awalnya ia diberi telepon genggam oleh seseorang dan ternyata bisa digunakan untuk bermacam fungsi.  Salah satunya membuka Facebook.

Ia kemudian memunculkan karakter Trontong dalam kisah-kisah yang dipublikasikan dalam status Facebook.

Baca juga: Ustaz Arifin Ilham Berpulang, Tinggalkan Kenangan 

Episode keseharian Trontong memang panjang dan mungkin ada ratusan kisah. Menurut Kiyai Chaedar, sebenarnya kisah itu adalah mengejek tingkah laku dari Trontong sendiri, bukan menyindir orang lain. 

“Apakah ada manfaatnya, tidak saya tidak tahu. Semoga tidak menambah siksa (saya) itu harapannya. Sekarang saya juga kewalahan untuk menambah pertemanan dan dua akun saya penuh semuanya. Pada intinya saya ingin menyampaikan bahwa kita harus berhati-hati dengan prasangka.  Kita tidak boleh merasa lebih baik dengan siapa pun,” ungkap Kiyai yang dikenal para santrinya sangat hemat dalam bertutur kata itu.

Dari sekian tulisan yang ada, kisah mengenai keris menjadi yang utama. Terhadap hal itu, KH Chedar punya jawaban. Pelajarannya, kata dia, bahwa manusia tidak punya kekuatan apapun apalagi bagi yang punya benda seperti keris atau akik. Jimat lambang kekuatan itu sebenarnya tidak punya daya apa-apa, melainkan kekuatan berasal dari Allah SWT.

Uniknya lagi karakter Trontong tersebut digambarkan bisa jadi siapa saja, seperti politikus, preman, bahkan kadang kiyai.

“Mengapa saya pakai nama ini (Trontong) karena aman, bukan nama-nama populer. Kalau istilahnya nanti dibully itu karena penggambaran karakternya,” ungkapnya.

Baca juga: Ustaz Arifin Ilham Berpulang, Tinggalkan Kenangan 

Menurut salah satu narasumber budayawan lokal, Haqqi El Anshary, buku tersebut sangat menarik di tengah kritisnya  tradisi literasi. Buku yang cukup tebal itu muncul dan bersumber dari posting medsos sang kiyai.

“Hari gini siapa sih yang mau baca buku setebal ini. Bahkan banyak yang lebih memilih baca status. Maka kumpulan dari postingan status FB yang renyah dan sekali baca langsung dapat esensinya dan sangat diterima pembaca. Materi yang renyah ini ada gizinya seperti ghibah dan dosa membicarakan orang lain, di tengah situasi seperti ini. Semoga kedepannya bisa membuat vlog,” ungkapnya.

Dikatakan Haqqi, sosok seperti Kiyai Chaedar butuh diangkat karena keteladanannya sudah tercermin pada kesehariannya. Beliau adalah kiyai kampung yang dekat dengan santri dan masyarakat namun akrab dengan medsos meski sudah tergolong sepuh.

Sementara itu menurut Dosen Unsiq, Abdul Arif, sosok Kiyai Chaedar juga menulis dalam mengemban misi ngemong masyarakat. Cara yang dibawakannya memang berbeda dengan kiyai lainnya.

“Ketika menasehati, beliau tidak terlihat menggurui. Pembaca tidak akan merasa digurui dengan buku ini tapi ini realitas yang ada saat ini. Beliau ini sedikit sekali bicara dan jadi pendengar yang baik. Selama 19 tahun saya kenal beliau belum pernah saya dengar beloau bicara keburukan orang. Kita bisa menuai pelajaran dari dua karakter Trontong Dan Odah,” tutur Arif.                                                                                  

Kang Irkham, sang inisiator pembuatan buku sekaligus pimpinan tim Editor menyebut bahwa inisiatif itu berasal dari para penggemar status Kiyai Chaedar. Menurutnya, proses pembuatan yang panjang selama lima tahun menjadikan buku tersebut dinilai butuh dilanjutkan di edisi berikutnya.

“Kami adalah penggemar status fb pak kiyai. Lalu ada obrolan untuk mencetak ini dalam buku dan kini memang eranya sekarang cenderung malas baca buku. Kami mohon doa dan restu dan yang terlibat banyak sekali. Mulai dari editing, layout hingga cetak. Semoga menjadi nilai ibadah bagi kita semua,” tutup Irkham.

 Simak juga video pilihan redaksi berikut


Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Mia Kamila
Reporter
Mia Kamila

KULINER