Gelar Jambore, Keuskupan Purwokerto Ajak Gusdurian

Haqqi El Anshari yang mewakili Gusdurian membahas mengenai keberagaman di hadapan [ara remaja peserta Jambore Diosesan SEKAMi 2019 yang digelar oleh Keuskupan Wonosobo. (Foto: Dok Haqqi El Anshari)
Haqqi El Anshari yang mewakili Gusdurian membahas mengenai keberagaman di hadapan [ara remaja peserta Jambore Diosesan SEKAMi 2019 yang digelar oleh Keuskupan Wonosobo. (Foto: Dok Haqqi El Anshari)

GenPI.co – Gelak tawa terdengar saat Haqqi El Anshari, mewakili Gusdurian, berdiri di hadapan ratusan siswa utusan dari 25 paroki se Keuskupan Purwokerto .  Pria dengan kupluk tinggi yang dikenal sebagai tokoh lintas agama di Wonosobo itu menjadi salah satu pembicara di Acara Jambore Diosesan Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner Indonesia (SEKAMI) 2019. 

Dihelat di di SLB Don Bosco Wonosobo 22-24 Juni 2014, beragam materi diberikan kepada peserta. Salah satunya adalah mengenai keberagaman yang presentasikan oleh Haqqi El Anshari.

Menurut RD Vinsensius F Dimas Martin Y, Direktur Diosesan Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Purwokerto, acara ini  untuk  menjaga kobar semangat misioner pada diri remaja dan pendamping sehingga berani menjalani hidup dalam kebhinekaan.

“Inti utama adalah tentang kebhinekaan, supaya anak-anak berani menghadapi sesuatu yang berbeda, apalagi bangsa kita juga harus mulai menyadari, harus menerima perbedaan dan harus terus berkarya bersama membangun Indonesia,” tambahnya.

Baca juga:

Kenalkan Budaya Jawa ke Balita, Sekolah di Wonosobo Lakukan Ini 

1 Tahun Pasar Kumandang Wonosobo, Menpar : Makin Keren, Paten! 

Haqqi El Anshari, pemateri dari Gusdurian mengapresiasi Keuskupan Purwokerto yang sebagai penyelenggara  acara Jambore Diosesan. Sebab berbagai pihak dilibatkan seperti Gusdurian Wonosobo, Gusdurian Banjarnegara dan Mafindo. Haqqi berharap agar acara seperti Jambore ini bisa lebih sering diadakan, karena salah satu upaya mengedukasi pentingnya keberagaman.

“Bukan hanya untuk Katolik, Muslim juga lainnya, saya harap bisa membuat acara yang serupa. Karena di masa ini, tanpa kita sadari bermunculan eksklusivisme, ini pentingnya mengenalkan kemajemukan dari usia dini. 

Ia menambahkan, tantangannya adalah bagaimana mengemas materi agar bisa tersampaikan untuk remaja usia SD-SMP. Pendekatan yang digunakan haruslah menarik, contohnya dengan games, bercerita lewat foto dan gambar, hingga menonton film pendek,

Hal senada disampaikan Astien Meiningsih dari Mafindo. Dia menilai acara ini tepat sasaran karena edukasi terkait keberagaman dan kebhinekaan juga mengenai hoax wajib disampaikan sejak usia dini.

“Kita banyak mengira, korban hoax dimulai dari usia remaja SMP ke atas, tapi studi kasus yang ada ternyata anak usia SD pun sudah mulai terpapar hoax lewat media sosial. Apalagi jika hoax menyangkut agama dan kepercayaan. Oleh karena itu, edukasi dan kegiatan seperti ini harus dilakukan sedini mungkin. Kemarin, selain lewat games, kami juga mengenalkan aplikasi Hoax Buster Tools untuk bisa mengecek kebenaran informasi,” jelas Astin.

Faza Luthfia, Gusdurian Wonosobo juga merasa senang dan bangga bisa ikut belajar bersama di agenda Jambore ini. Dia dan teman-teman dari Gusdurian Wonosobo dan Banjarnegara juga menyelenggarakan games interaktif soal keberagaman.  

“Mereka tahu kalau saya beda agama, karena yang pakai kerudung kan cuma satu, tapi mereka biasa saja, malah antusias nanya, ngobrol-ngobrol. Yang paling saya ingat, mereka bilang begini, walaupun beda agama tapi tetap berteman, karena Indonesia itu beragam. Disitu saya merasa, wow! Ini acara yang keren,” ungkapnya.

Simak juga video menarik  berikut


RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Hafid Arsyid
Reporter
Hafid Arsyid

KULINER