Letusan Gunung di Nusantara Menginspirasi Dunia

‘The Scream’ karya Edvard Munch.
‘The Scream’ karya Edvard Munch.

Nusantara adalah wilayah kepulauan yang indah dan menarik perhatian banyak orang. Bahkan pada masa-masa sulitnya, Nusantara tetap mampu memberi inspirasi pada orang-orang yang berada jauh dari di belahan bumi lain.

I had a dream, which was not all a dream.

The bright sun was extinguish'f, and the stars did wander darkling in the eternal space, rayless, and pathless, and the icy earth swung blind and blackening in the moonless air; morn came and went--and came, and brought no day.

Puisi ‘Darkness’ tulisan Lord Byron di Juli 1816 ini diyakini terinspirasi oleh letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa pada tahun sebelumnya, 1815. Namun penyair kenamaan Inggris ini bukanlah satu-satunya seniman Eropa yang menghasilkan karya terkait Tambora, Mary Shelley terpaksa berdiam diri di dalam rumah saat musim panas di Swiss, cuaca yang sangat buruk membuat dia dan sekelompok penulis lainnya bersaing, siapakah diantara mereka yang mampu menulis kisah paling seram. Mary Shelley akhirnya menghasilkan kisah ‘Frankenstein’ yang legendaris.

Seniman lain pada masa itu yang juga terinspirasi oleh letusan Tambora adalah pelukis Inggris J.M.W Turner.Lukisannya yang berjudul ‘Chichester Canal’ menunjukkan langit dengan tanda-tanda yang mengacu pada adanya debu vulkanik di langit di seluruh Eropa.

Namun lukisan yang paling terkenal yang terkait dengan Nusantara adalah ‘The Scream’ karya Edvard Munch. Lukisan yang menggambarkan seseorang yang berteriak di jembatan dengan latar langit senja bewarna merah terang ini dilukis di Norwegia. Gunung Krakatau meletus pada bulan Agustus 1883, sementara warga Norwegia menyaksikan senja tak biasa yang bewarna merah ini dari November 1883 sampai Februari 1884.

Ternyata bukan hanya karya seni, erupsi Tambora juga memicu gerakan sosial di belahan lain dunia, tahun tanpa musim panas akibat letusan Tambora telah membuat para petani di bagian timur laut Amerika serikat bergerak ke arah barat, membangun daerah baru dan menguatkan dukungan bagi gerakan Anti-Perbudakan.

‘Tahun Tanpa Musim Panas’ juga telah membuat harga jerami melambung tinggi di Eropa. Biaya memberi makan kuda naik tujuh kali lipat. Akibatnya, berjalan-jalan keliling kota menjadi sangat mahal karena harus menggunakan kuda dan kereta kuda. Untunglah ada Karl Drais yang pada tahun 1819 menemukan cara untuk berkeliling tanpa melibatkan kuda. Lahirlah sepeda.

Reporter: Robby Sunata

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Mia Kamila
Reporter
Mia Kamila

KULINER