Stories: Share your traveling moment!

Obin, Anak Keluarga Petani Kopi yang Sukses S2 di Amerika

Robinson berfoto bersama kedua orang tua saat wisuda di Columbia University, AS ( sumber ; Foto: IG @robinsonsinurat )
Robinson berfoto bersama kedua orang tua saat wisuda di Columbia University, AS ( sumber ; Foto: IG @robinsonsinurat )

Robinson Sinurat atau yang akrab disapa Obin, pemuda asal Tanjung Beringin di Sumatera Utara yang kisah hidupnya patut dicontoh oleh para generasi muda.

Bagaimana tidak, Obin yang dari keluarga petani kopi dan sayur, berhasil meraih gelar pendidikan S2 di University of Columbia, Amerika Serikat.

Sejak kecil, perjuangan Obin untuk menempuh pendidikan tidaklah mudah. Anak ke-5 dari tujuh bersaudara tersebut seringkali mendapat kendala finansial dan harus tinggal jauh dari orang tua di kota Medan, untuk mendapatkan sekolah yang lebih baik.

“Ketika di giliran aku mau masuk ke sekolah, contohnya mau masuk SMP, mau masuk SMA, selalu terkendala dengan keuangan. Jadi mereka selalu bilang coba ke negeri dulu aja, kalau masuk negeri keuangan kita bisa mencukupi,” ungkap Obin, dilansir dari VOA Indonesia (09/01/2019).

Meskipun memiliki banyak kendala, Obin tetap berprestasi dan selalu merah juara kelas. Hingga saat Obun diterima di Universitas Sriwijaya di Palembang, jurusan Fisika, dirinya harus kembali menghadapi kendala biaya.

Bahkan, Obin menuturkan bahwa dirinya seringkali terpaksa harus meminjam uang temannya, untuk membayar biaya kuliah dan biaya makan sehari-hari.

“Jadi dulu itu strateginya adalah aku beli nasi banyak, sepiring gede terus pakai sayur, pakai ikan atau daging apa gitu bayarnya kan cuman itu doang Aku enggak pernah kasih tahu (orang tua), kalau aku itu nggak makan. Tapi kalau yang bahagia-bahagianya aku kasih tahu,” lanjutnya.

                                                             

Untuk biaya kuliah dan biaya hidupnya, Obin bekerja paruh waktu menjadi pengajar fisika di sekolah bimbingan belajar di pusat kota Palembang. Karena nilai indeks prestasinya yang baik, Obin juga sempat mendapat bantuan biaya pendidikan dari pihak kampus.

Meskipun sibuk kuliah dan mengajar, Obin tetap aktif dalam beberapa organisasi sosial di lingkungan kampusnya, seperti dI Youth Interfaith Community, American Association of Petroleum Geologist, menjadi ketua perkumpulan warga Batak, dan mendirikan organisasi kampus, Himpunan Mahasiswa Geofisika.

Setelah selesai menempuh pendidikan sarjana, Obin pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai koordinator program di bidang kepemudaan di Global Peace Foundation. Obun juga pernah bekerja di kementerian PU (Pekerjaan Umum) sebagai seorang konsultan.

Seiring berjalannya waktu, Obin memiliki impian baru, yaitu pergi ke Amerika untuk menempuh pendidikan. Impian Obin tersebut tercapai setelah dirinya menerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Pendidikan) dan berhasil diterima di berbagai universitas di Amerika Serikat, Australia, Belanda dan Inggris. Obin pun memilih Columbia University dengan jurusan 'social work' (pekerjaan sosial).

“Karena aku dulu waktu pertama kerja aku udah membuat semacam goal satu target, dalam waktu dua tahun aku mau lanjut lagi s2 di bidang sosial,” jelas Obin.

Di tahun 2018, Obin menyelesaikan studi S2 nya di New York. Obin pun berhasil mendatangkan kedua orang tuanya ke Amerika untuk menghadiri wisudanya, dengan hasil tabungannya selama bekerja paruh waktu di AS.

Baca Juga : Yuk, Mengenal Gaya Riasan Paes Ageng Khas Yogyakarta

“Akhirnya tercapailah mimpi aku itu. Aku bilang harus berdua, karena waktu S1 kan cuman (Mamak). Jadi kalau kali ini harus berdua,” paparnya.

Setelah lulus dari Columbia University, Obin bekerja sebagai Counseling Specialist di lembaga nirlaba, Queens Community House di New York.

Obin pun berbagi tips untuk sukses menyelesaikan pendidikan di luar negeri, yang tak lepas dari motto hidupnya, yaitu Be honest. Be brave. Be willing. (Jujur, Berani, Mau berjuang).

“Kita harus jujur sama diri kita sendiri, let’s say kalau ada sesuatu yang memang kita enggak sanggup, ya bilang enggak sanggup dan kita jujur sama diri kita sendiri. Kita itu orangnya gimana? Karena jujur sama diri sendiri itu penting. Ketika kita jujur dengan diri kita sendiri, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Kemudian kita harus berani. Berani untuk melangkah. Untuk take risk. Jadi harus ada yang dikorbankan,” tutur Obin.


Reporter: Yasserina Rawie

Redaktur: Landy Primasiwi



RELATED NEWS