Cek Keberuntungan di Tahun Ini Melalui Ramalan Cina Kuno

Ciam si, ritual ramalan Cina kuno. (Foto: Tridharma.co.id)
Ciam si, ritual ramalan Cina kuno. (Foto: Tridharma.co.id)

Sobat GenPI pernah datang ke Klenteng atau pernah melihat orang diramal di Klenteng? Ritual rama mramal itu disebut Ciam si yang merupakan sebuah tradisi ramalan kuno. Tujuannya apa lagi kalu bukan  untuk meminta nasib dan peruntungan pada pergantian tahun.

Ciam si ini dilakukan dengan mengocok batang bambu yang ditaruh wadah bambu berbentuk gelas. Batang-batang bambu tersebut diberikan nomor pada salah satu permukaannya.

Batang bambu tersebut berjumlah 60 atau 100. Di antara jumlah terebut,  ada dua bilah bambu yang berbentuk bulan setengah dan berwarna merah yang disebut siao poe.

Sebelum melakukan ciam si, biasanya diawali dengan sembahyang menggunakan dupa dan menuang minyak pada wadah-wadah lampu. Setelah itu. barulah gelas bambu berisi bilah bambu diangkat dan dikocok-kocok hingga terlontar satu batang bambu bernomor. Jangan lupa mengucap nama, umur, tempat tinggal dan pertanyaan yang diinginkan.

Kemudian, ambil siao poe dan tanyakan apakah betul nomor tersebut merupakan sebuah jawaban dari permohonan atau pertanyaan yang ingin diajukan. Kemudian lempar dua bilah kayu tersebut , Jika keduanya tertelungkup maka kocokan bambu harus diulang, namun jika keduanya terlentang maka bisa benar, bisa juga tidak. Jika yang satu tertelungkup dan yang satu terbuka, maka jawaban tersebut sah.

Langkah selanjutnya, mencari kertas dengan nomor yang tertera pada batang bambu. Kertas tesebut berisi syair yang menggambarkan ,jawaban atas pertanyaan yang diucapkan oleh seseorang saat mengocok bambu.

Dilansir dari berbagai sumber, Ciam si ini sudah ada sejak 3000 SM di Tiogkok Kuno. Konon pada zaman dahulu banyak orang yang datang ke kelenteng untuk mencari guru-guru agama demi mencari bantuan atau pertolongan. Mereka menanyakan nasib dan jodoh mereka bahkan ada yang meminta untuk penyembuhan penyakit.

Namun pada bulan-bulan tertentu para guru sedang tidak ada ditempat sehingga banyak orang-orang yang kecewa lantaran saat datang tidak ketemu. Untuk itu pada guru membuat Ciam Si agar masyarakat yang datang jauh-jauh tidak kecewa. Masyarakat pun akhirnya membawakan oleh-oleh sebagai ucapan terima kasih. Dari situlah timbul sebuah kebiasaan mempersembahkan sesuatu pada Dewa.

Reporter: Mia Kamila

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Annissa Nur Jannah
Reporter
Annissa Nur Jannah

KULINER