Siapa Sangka Kota Bebas Polusi di Papua ini, Berada di Atas Papan!

Begini suasana kota yang berdiri di atas papan . (Sumber: liputan6)
Begini suasana kota yang berdiri di atas papan . (Sumber: liputan6)

Polusi udara memang hal yang paling mengganggu. Sebuah kota di Selatan Papua ini justru bebas dari polusi udara. Di sana tidak ada kendaraan bermotor dan uniknya lagi kota di sana berdiri di atas papan ebonit. Hal ini disebabkan karena wilayah tersebut merupakan sebuah rawa yang memang sangat mustahil dibangun seperti kota pada umumnya. 

Menurut cerita dari masyarakat rawa tersebut merupakan sebuah kutukan. Konon, dahulu ada seorang Pastor berkebangsaan Belanda bernama Jan Smith sedang melangsungkan misi penyebaran Injul di wilayah pedalaman suku Asmat. Dalam menjalankan misinya rupanya Jan Smith menghadapi tantangan yang berat, hingga pada akhirnya dia terbunuh dan penyabnya masih menjadi misteri sampai saat ini. Sebelum dia meninggal Jan Smith mengatakan bahwa wilayah Agats tersebut akan basah dan menjadi rawa selamanya. Sampai sekarang penduduk Agats percaya akan mitos tersebut dan menganggap bahwa penyebab kota mereka berdiri di atas rawa adalah sebuah kutukan. Dan hal tersebut pun menyebar dari mulut ke mulut. 

Kota Agats ini sendiri merupakan sebuah pemekaran baru Kabupaten Asmat dan bagian dari propinsi Papua. Secara geografis kota ini terletak di sebelah selatan pulau Papua dan berdekatan dengan wilayah Timika. Penduduk kota Agats berjumlah kurang lebih sekitar 76.000 jiwa. seluruh jalan di Agats terlihat seperti jembatan yang terbuat dari kayu dan besi. Rumah dan bangunan perkantoran pun berdiri di atas papan tersebut seolah seperti rumah panggung. Transportasi mereka menggunakan motor listrik yang memang tidak mengeluarkan asap yang menyebabkan polusi udara. 

Jalanan di Agats tidak mampu menopang beban motor mesin yang cukup berat. Mayoritas penduduk Agats adalah pendatang dari luar wilayah yang mengandalkan transportasi laut berupa perahu motor atau biasanya berjalan kaki saat menyusuri kota Agats. Masalah utama di Agats adalah pasokan air bersih, sehingga mereka harus menampung air hujan pada tabung-tabung air. Pasalnya kondisi tanah berawa sulit mendapatkan air bersih. 

Uniknya, meskipun serba terbatas, kota ini memiliki sarana-prasarana dan infrastruktur kota yang cukup memadai. Pelabuhan, kantor pemerintahan, rumah sakit, kantor polisi, sekolah hingga museum. Masyarakatnya pun leluasa untuk melakukan segala aktivitas mereka seperti kota pada umumnya. 

Untuk menuju Agats, sobat GenPI bisa menggunakan pesawat dan mendarat di Jayapura. Kemudian dilanjutkan menggunakan pesawat kecil menuju Mimika dan dari situ bisa langsung menuju Kabupaten Asmat dengan melalui udara atau laut. 

Reporter : Mia Kamila

Redaktur : Fini Auliany

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Hafid Arsyid
Reporter
Hafid Arsyid

KULINER