Melihat Antusiasme Warga NTB Dalam Tradisi Bau Nyale

Warga berkumpul di Pantai Seger untuk menangkap Nyale.
Warga berkumpul di Pantai Seger untuk menangkap Nyale.

Senin (25/2)dini hari sekitar pukul 03.00 WITA, warga Lombok, NTB dan para wisatawan sudah memenuhi Pantai Seger, Mandalika. Tradisi Bau Nyale tengah berlangsung di tempat itu. Ribuan warga yang berasal dari berbagai daerah di NTB terlihat sangat antusias dalam mengikuti tradisi turun temurun mencari nyale di pinggir pantai. Sebagian di antaranya sudah siap sejak Minggu malam, dan menginap di tenda-tenda di sekitar pantai Seger.

Bau nyale sendiri merupakan tradisi mencari cacing nyale yang dilatarbelakangi oleh legenda Putri Mandalika. Menurut legenda tersebut, cacing-cacing yang muncul pada dini hari pada bulan Februari atau Maret adalah penjelmaan dari Putri Mandalika. Sosok Putri Mandalika menjadi panutan bagi warga Lombok karena kebijaksanaannya dan kecintaannya kepada rakyatnya.

Berdasarkan kisahnya, Putri Mandalika mengorbankan dirinya untuk terjun ke laut dan berubah menjadi nyale, untuk menghentikan pertikaian sengit yang terjadi diantara para pangeran yang memperebutkan dirinya. Tradisi mencari nyale tersebut kemudian masih dilakukan hingga saat ini oleh warga Lombok dan NTB.

Baca juga: Selain Begizi, Nyale Punya Khasiat Kesehatan, Loh! 

Bagi warga NTB, momen perayaan Bau Nyale ini bisa me jadi ajang pengikat tali silaturahmi sekaligus mengandung manfaat ekonomi. Bagaimana tidak, ribuan warga dari berbagai daerah dan para wisatawan berkumpul bersama dan melakukan tradisi Bau Nyale yang sudah menjadi tradisi di Pulau Lombok.

Melihat Antusiasme Warga NTB Dalam Tradisi Bau Nyale

Salah satu warga yang terlihat antusias mengikuti tradisi Bau Nyale adalah Lalu Sadri. Ia tinggal di Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat. Sadri mengaku berangkat dari rumah bersama dengan 8 anggota keluarganya menggunakan mobil. Sadri berangkat dari rumah pukul 21.00 WITA, dan baru sampai di Pantai Seger, Mandalika pada pukul 01.00 dinihari. Meskipun harus menempuh jarak yang jauh dan kemacetan, Sadri mengaku sangat ingin untuk mengikuti tradisi bau nyale, sekaligus untuk mengajarkan kepada cucu-cucunya tentang tradisi tersebut.

“Saya datang kesini sekeluarga. Dari sebelum menikah saya memang sudah rutin ikut bau nyale ini. Makanya sekarang saya ajak cucu-cucu saya kesini. Mereka juga senang dan kepengen banget diajak cari nyale ini,” ungkap Sadri kepada GenPI.co

Menurut Sadri, Bau Nyale sudah menjadi tradisi tahunan yang secara rutin ia ikuti. Ia mempercayai bahwa ikut dalam prosesi bau nyale ini bisa membawa berkah. Sadri mengatakan bahwa nantinya, cacing nyale hasil tangkapannya bersama.cucu-cucunya akan diolah menjadi pepes.

“Ya memang sudah tradisi, ini bisa bawa berkah. Nantinya nyale bisa di pes (pepes) atau dimasak sama sayur,” ujar Sadri sambil mengumpulkan nyale hasil tangkapannya.

Selain Sadri yang mengolah nyale untuk dijadikan masakan, ada juga sebagian warga yang menjual nyale hasil tangkapannya. Salah satunya adalah Dewi, warga Lombok Tengah, yang mengaku ingin menjual hasil nyale tangkapannya ke pasar.

“Kalau lagi dapat banyak lagi sih pengen dijual, ada ke pasar. Satu mangkok nyale itu bisa Rp70 ribu,” kata Dewi.

Semakin pagi, warga yang turun ke pantai untuk mencari nyale di Pantai Seger semakin banyak. Selain di Pantai Seger, tradisi bau nyale juga dilakukan di Pantai Selong Belanak, Pantai Kaliantan dan di beberapa pantai yang ada di Kuta, Mandalika.

Reporter: Yasserina Rawie

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Landy Primasiwi
Reporter
Landy Primasiwi

KULINER