Sri Suprihatinah, Kartini Tangguh Sang Driver Bus Trans Semarang

Sri Suprihatinah saat mengemudikan salah satu armada BRT Trans Semarang Koridor I Mangkang-Penggaron (Sumber Foto: GenPI.co/ gus Wahid)
Sri Suprihatinah saat mengemudikan salah satu armada BRT Trans Semarang Koridor I Mangkang-Penggaron (Sumber Foto: GenPI.co/ gus Wahid)

GenPI.co — Menjalani profesi tak lazim bagi perempuan demi aktualisasi diri, adalah hal yang dilakukan Sri Suprihatinah, sosok Kartini tangguh dari Semarang, Jawa tengah. Profesinya adalah pengemudi BRT Trans Semarang Koridor 1 jurusan Mangkang - Penggaron. Sebuah profesi yang kurang jamak ditemui dari seorang wanita.

Lazimnya, profesi driver apalagi pengemudi bus, adalah laki-laki. Namun wanita kelahiran Jakarta 6 Juni 1973 ini justru menjalani aktivitas keseharian sebagai pengemudi atau driver angkutan umum massal di Kota Semarang, yakni BRT Trans Semarang. Sri menjadi yang pertama dan satu-satunya driver perempuan di jajaran Trans Semarang.

Sri Suprihatinah, Kartini Tangguh Sang Driver Bus Trans Semarang
Penuh semangat, Sri Suprihatinah mengemudikan salah satu armada BRT Trans Semarang Koridor I Mangkang-Penggaron. (Sumber foto: GenPI.co/ gus Wahid)

Mulai mengemudi sejak 1995, ia telah terbiasa membawa kendaraan beroda 4. Selanjutnya pada tahun 2007, ia bergabung dengan Trans Jakarta mengemudikan armada jurusan Kampung Melayu - Ancol hingga 2016. 

Sri juga pernah mengemudikan armada Damri koridor 5 jurusan Harmoni - Lebak Bulus 2016 - 2018. Dan mulai Maret 2019, ia resmi bergabung dengan Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang Koridor 1 jurusan Mangkang - Penggaron. 

Baca juga: Hari Kartini, Ini Profesi Pria Yang Kian Diminati Perempuan

Bekerja secara shift, Sri bekerja penuh semangat dan dedikasi. Pada saat bertugas shift pagi, sejak pukul 05.00 dia telah memulai aktivitas berupa menyalakan armada untuk melakukan pemanasan mesin.

Dan jika sift siang pukul 11.00, ia menyempatkan diri terlebih dulu mengurus suami dan anak-anaknya.

Sri menceritakan pengalaman sebagai driver lebih menantang, apalagi menjadi pengemudi Trans Semarang.

"Di Semarang jalur BRT masih menjadi satu dengan angkutan kota (angkot), kendaraan umum dan kendaraan pribadi. Sehingga dibutuhkan kejelian, kewaspadaan, konsentrasi dan kesabaran yang tinggi," terangnya. 

Terkait dengan kendala atau hambatan menjadi driver Trans Semarang, Sri menuturkan saat ban bocor atau saat kopling nyeplus (transisi).

Saat ditanya apakah keluarga tidak keberatan dengan pekerjaaannya, ia mengungkapkan jika keluarga sangat mendukung.

"Keluarga sangat support dan mendukung pekerjaan saya. Bahkan anak saya yang saat ini kuliah di Universitas Gajahmada, sangat bangga," pungkasnya. Ayo, teladani semangat tangguh Kartini ini.

Redaktur: Maulin Nastria

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Landy Primasiwi
Reporter
Landy Primasiwi

KULINER