Teka-Teki COVID-19: Mematikan di Amerika tapi TIdak di Asia

Ilustrasi: Pixabay
Ilustrasi: Pixabay

Penelitian tim ilmuwan Cambridge University menunjukkan virus corona penyebab COVID-19 telah bermutasi setelah meninggalkan wilayah Asia Timur menuju Eropa. Menurut penelitian tersebut, strain awal virus ini kemungkinan telah beradaptasi terhadap imunitas dan lingkungan populasi di Asia Timur sehingga perlu bermutasi untuk menyebar ke wilayah lain.   

Peter Forster, pakar genetik yang memimpin penelitian tersebut mengatakan, data klinis yang tersedia menjelaskan pengaruh perbedaan strain virus saat menyebar pada populasi tertentu. Namun, perlu ada penelitian lanjutan untuk menyelidiki pengaruh perbedaan strain virus terhadap tingkat kematian.  

Sementara tim peneliti dari Los Alamos National Laboratory menyatakan strain virus yang lebih ganas telah menyebar di Eropa dan Amerika Serikat. Namun, Jeremy Luban, ahli virologi University of Massachusetts Medical School, mengatakan strain virus yang menyebar di Eropa dan Amerika lebih mudah menular.  

BACA JUGA: Atlet Paling Tajir 2020 Ternyata Bukan Ronaldo dan Messi

5. Tingkat obesitas

ADVERTISEMENT

Ada satu kesamaan lain yang dimiliki negara-negara di Asia, yaitu tingkat obesitas yang lebih rendah ketimbang negara-negara Barat. Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang meningkatkan risiko fatalitas COVID-19.  

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat obesitas di Jepang hanya sekitar 4 persen dan kurang dari 5 persen di Korea Selatan. Sementara di Amerika tingkat obesitas mencapai 36 persen, sementara di Eropa Barat mencapai 20 persen.  

Namun, berbagai penelitian epidemiologi terkait COVID-19 masih belum memiliki data yang lengkap. Oleh sebab, itu kesimpulan awal yang kini disuarakan bisa berubah seiring dengan makin bertambahnya data yang tersedia.  (*)


Redaktur : Agus Purwanto

loading...

BERITA LAINNYA

Berita Tentang Musikpedia Terbaru dan Terkini Hari ini


PARENTING