Ngopi Nikmat di Frekuensi Kopi

Frekuensi Kopi.
Frekuensi Kopi.

Penikmat kafein,  ada satu tempat kopi yang cocok untuk kamu coba.  Nama Frekuensi Kopi. Lokasinya di Jalan Meruya Utara no 52, Jakarta Barat. Kopi yang buka pukul jam 18:30 s/d 23:30 WIB ini selalu penuh pengunjung di setiap harinya.

Frekuensi Kopi dikelola oleh tiga orang. Mereka adalah  Ubaidillah Urwah, Muhammad Rudi, dan Nur Apriani Harwati. Mereka ingin sebuah tempat ngopi yang unik, yang tak biasa. Sebuah tempat yang diharapkan mampu menghadirkan kenyamanan dan ketenangan dalam jiwa dan diri sang penikmatnya.

“Awalnya saya bertemu dengan Muhammad Rudi di kampus dan kemudian kami bertemu dengan Nur Apriani Harwati di sebuah kedai kopi, karena dengan visi misi yang sama maka kami akhirnya bercita-cita memiliki kedai kopi sendiri,” cerita Ubaidillah kepada GenPI.co beberapa waktu lalu.

Frekuensi Kopi ini sendiri adalah sebuah tempat ngopi baru. Belum sebulan usianya. Kedai kopi ini berdiri pada 1 November 2018.

Nama ‘Frekuensi Kopi’ sendiri memiliki filosofi yang dalam. Frekuensi memiliki makna yang menggambarkan adanya sebuah gelombang kehidupan yang tidak pernah stagnan. Sementara kopi diibaratkan sebagai pengalaman hidup harus dinikmati, sepahit apapun yang kita rasakan.

Kedai kopi yang berdiri ini nampaknya sudah mempunyai tempat tersendiri bagi penikmatnya. Baru beberapa hari pengunjung yang datang pun mempunyai antusias yang luar biasa.

Pengunjung betah berada di tempat kopi ini, Bahkan  hingga dini hari atau melebihi jam tutup. “Walau mereka banyak yang kebablasan sampe dini hari tapi kami usahakan untuk selalu welcome, karena kepuasan pelanggan ada d itangan kami,” ujar Nur Apriani Harwati.

Ngopi di sini tak akan menguras kantong. Harganya terjangkau, antara Rp8 ribu-Rp17 ribu. Harga yang pas untuk anak muda. Kebanyakan dari pengunjung  memesan kopi daerah dengan metode V60. Selain kopi, minuman dingin seperti milkshake dan makanan ringan juga dihadirkan untuk melengkapi menu.

“Kopi yang dipakai ialah beans dari Indonesia, seperti Mandala Wangi, Gayo, Mandailing, Kintamani, Toraja dan Solok. Kami juga meracik kopi dengan sistem manual” tutur Nur.

Uniknya, pada siang hari tempat itu  adalah dealer mobil bekas. Namun ketika malam, sang pemilik menyulap tempat ini menjadi kedai kopi yang minimalis. Tempat yang cocok untuk dijadikan ruang diskusi, tempat untuk bertukar pikiran.  

Reporter: Annissa Nur Jannah

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS

KULINER

My Trip Story

Oleh:
Anggi Agustiani
Reporter