Stories: Share your traveling moment!

Bali, Kucicipi Indahnya Pesonamu

Oleh: Paskalis Yuri Alfred P

Bali adalah tempat impian. Keindahan tempat yang dijuluki Pulau Dewata ini membuatnya menjadi tersohor hingga ke ujung dunia. Tanyakan pada setiap turis, “do you know Bali?”  Yang keluar dari mulut mereka pastilah decak kagum akan keindahan alam dan keunikan budayanya. Bali memang indah, Bali adalah tempat impian.

Pesawat yang saya tumpangi akhirnya mendarat mulus di bandara Ngurah Rai, Bali. Perjalanan satu setengah jam di pagi hari dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, bagai tak terasa. Cuaca yang cerah menawarkan keindahan bentang alam Nusantara, membuat saya terus melongok keluar sambil tak henti-hentinya berdecak kagum. 

Benar kata orang, Indonesia adalah Zamrud Khatulistiwa. Laut biru dengan segudang kekayaan hayati di dalamnya, dihiasi ribuan pulau besar dan kecil, siap menggelitik jiwa para petualang yang bermaksud menguak tabir keunikan yang ditawarkannya.

Uluwatu: Antara pesona sunset dan lakon Ramayana

Di Bali, Uluwatu menjadi tujuan pertama saya. Keinginan saya mengunjungi tempat yang berada di ujung selatan Bali itu bukannya tanpa alasan.  Di situ, persis di atas tebing batu curam, berdiri kokoh sebuah Pura yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Pura Luhur Uluwatu namanya. Konon, seorang pendeta Hindu yang berasal dari Jawa bernama Empu Kuturan adalah orang yang membangun pura di tempat ini baginya untuk mendekatkan diri pada Khalik Langit, Sang Hyang Widhi.

Perjalanan dari Denpasar ke Uluwatu tidak memakan waktu lama. Karena itu saya memutuskan menyewa kendaraan roda dua saja. Lebih praktis dan murah tentunya. Di Denpasar, tidak akan kesulitan menemukan tempat penyewaan kendaraan baik roda empat maupun roda dua. Jika bepergian seorang diri dan tidak tertarik menggunakan jasa tour agent, menyewa motor adalah pilihan paling ideal.

Butuh sedikit perjuangan untuk  mencapai Pura Luhur Uluwatu. Pasalnya, bangunan ini terletak jauh di atas puncak tebing. Namun, jerih payah  saya segera terbayar begitu sampai di atas. Pemandangan spektakuler Samudera Indonesia yang maha luas terpapar tepat didepan mata. Buih-buih putih ombak yang silih berganti membentur kokohnya karang menambah indah pemandangan sekaligus memancarkan kesan mistik khas Bali yang kental.  Jika Petang menjelang, pemandangan akan semakin menawan. Sang surya yang perlahan-lahan tenggelam di kaki langit laksana seorang  pelukis  dengan kuasnya menyapu hamparan biru laut dengan warna merah keemasan. Sementara siluet deretan awan yang bergantungan di langit membuat setiap mata semakin terpana.

Keindahan laut dan debur ombaknya bukan satu-satunya yang dapat saya nikmati di Uluwatu. Tak jauh dari pura, masih di kompleks yang sama, ada sebuah gelanggang tempat pagelaran tari Kecak. Ini adalah sebuah tari drama yang melakonkan kisah epik Ramayana, tatkala Rama dibantu Raja Kera Anoman berusaha membebaskan Shinta yang diculik raksasa Rahwana. Nama kecak itu sendiri diambil dari suara cak-cak yang diucapkan terus menerus selama pertunjukan berlangsung.  Tarian unik ini menjadi salah satu kekhasan Bali dan sudah terkenal di berbagai belahan dunia.

Jika berminat menonton Kecak, sebaiknya cepat-cepat beli tiket agar mendapatkan tempat yang enak untuk menikmati pertunjukan. Tribun yang disediakan biasanya tidak dapat menampung penonton yang membeludak. Tempat favorit saya saat menikmati drama tari itu adalah di sisi timur gelanggang. Ini adalah spot yang tepat jika ingin merasakan sensasi menonton tari dengan sunset sebagai latarnya. Warna jingga petang, teriakan cak cak yang tiada henti, serta kelincahan dan keluwesan penari dalam membawakan perannya, segera memancarkan kesan sakral yang sulit dijelaskan. Hati dan jiwa ikut bergelora, selaras dengan teriakan dan gerak para penari, serta deburan ombak laut yang sayup terdengar. Perpaduan daya tarik keindahan alam dan gerak tari sebagai represantasi karya seni manusia, melahirkan sebuah bahasa universal, yang entah bagaimana, seolah mengajak setiap penonton yang datang dari berbagai penjuru dunia itu ikut larut dalam legenda berusia ribuan tahun tersebut.  Hasilnya, deru tepuk tangan membahana tepat setelah pertunjukan berakhir.    

Tenangnya  Bedugul

Hari masih pagi, namun saya sudah terjaga dari lelap. Tak mau berlama-lama, segera saja saya keluar dari kamar sebuah hotel di kawasan Kuta tempat saya menginap. Petualangan pun dilanjutkan. Tujuan saya hari ini adalah Bedugul. Sebuah kawasan yang terletak di kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, kurang lebih 70 km dari Denpasar.

Bedugul adalah sebuah dataran tinggi. Terletak di ketinggian 1400 meter di atas permukaan laut, kawasan ini berhawa sejuk di siang hari, dan dingin yang menusuk tulang di kala malam. Jika pada hari sebelumnya, saya terpesona dengan deburan ombak dan riuh rendah suara penari memainkan tari Kecak, Bedugul menawarkan suasana yang lain. Tenang dan damai. Pepohonan yang rimbun dan pegunungan dengan hutan lebat dari kejauhan menjadi ciri khas daerah ini.  Perasaan tenang semakin kuat tatkala memasuki kawasan danau Beratan, sebuah danau yang sayang dilewatkan bila mengunjungi Bedugul.

Beratan adalah sebuah danau yang unik. Di tengah danau tersebut, ada sebuah kompleks pura. Tunggu dulu, Pura di tengah danau? Sebenarnya Pura ini tidak benar-benar terletak di tengah danau. Ada sebuah daratan yang tidak seberapa besar yang menjorok ke dalam dari tepi danau ini. Oleh masyarakat zaman dahulu, di atas pulau mini ini dibangun sebuah pura yang dimanfaatkan sebagai tempat doa. Ulun Danu, demikian nama Pura itu, terlihat begitu indah karena berdiri di antara tenangnya air dan pegunungan yang dipenuhi pepohonan hijau sebagai latarnya. Di antara warna hijau yang mendominasi daerah itu, berdiri kokoh banyak pura serta tempat penginapan bagi para pelancong yang ingin bermalam di tepi kawasan itu. Tidak berlebihan jika banyak pelancong yang betah berlama-lama di tempat ini. Di tepi danau juga sudah tersedia beberapa perahu motor yang siap mengantar pengunjung yang ingin merasakan nikmatnya melintas di atas beningnya danau Beratan.

Kira-kira 2 kilometer dari danau Beratan, terdapat Kebun Raya Eka Raya. Suasana tenang dan asri seperti di Beratan juga dapat ditemukan di kebun yang didirikan pada tahun 1959 ini. Berbagai tumbuhan tropis dapat dijumpai di Kebun Raya Eka Raya. Kawasan ini juga biasa disebut sebagai paru-parunya Bali. Asyiknya, di kawasan ini saya mendapatkan oleh-oleh berupa berupa strawberry segar yang dijual oleh penduduk setempat.

Raksasa bernama GWK    

Ini hari terakhir saya di pulau Dewata Bali. Dua petualangan di hari kemarin membuat saya semakin jatuh cinta pada tempat ini. Begitu banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Namun, di hari terakhir ini, saya memutuskan untuk menuju kompleks Garuda Wisnu Kencana (GKW). Toh tempat itu juga tidak kalah menarik dibandingkan dengan tempat-tempat wisata lain di Bali.

Di kompleks GKW mentari bersinar terik tanpa ampun. Wajar saja, daerah  yang terletak di lokasi bukit Jimbaran itu adalah sebuah bukit kapur dengan sedikit pohon yang tumbuh.  Namun kemegahan konstruksi patung raksasa GWK membuat saya lupa pada hari yang panas. Besarnya bukan main. 

Itu adalah sebuah  Patung yang menggambarkan Dewa Wisnu yang sedang menunggangi seekor burung Garuda. Proyek 25 tahun itu baru kelar pada 2018 lalu.

Masih di kompleks tersebut, ada sebuah museum yang dipenuhi dengan foto dokumentasi mengenai proyek GWK. Ada pula replika patung GWK yang unik karena dibuat dari susunan lembaran kertas kardus. Bagi Anda yang ingin mengetahui mega proyek ini secara lebih detail, museum tersebut juga menyediakan sebuah bioskop kecil yang dengan setia memutar sebuah film dokumenter. 

Kompleks GWK juga memiliki sebuah panggung pementasan tari. Jika sedang tidak ada pagelaran, panggung ini biasa dimanfaatkan oleh anak-anak yang ingin mendalami tari-tarian tradisional mereka. Asyik juga menikmati anak-anak tersebut bergerak lincah menari mengikuti irama. Wajah polos mereka nampak serius mendengar instruksi pelatih. Banyak juga para pengunjung yang menyempatkan diri menonton penari-penari cilik tersebut. Mungkin karena sudah biasa ditonton, mereka seolah mengabaikan pelancong yang sibuk mengambil gambar mereka.

Asyik menikmati suasana GWK membuat saya lupa waktu. Tak terasa hari sudah sore dan perut pun sudah meronta minta diisi. Restaurant Klapa yang berada tak jauh dari kompleks GWK menjadi tujuan saya selanjutnya. Dengan konsep menikmati makanan diiringi deburan ombak, restoran yang kabarnya miliki Tommy Soeharto ini merupakan tempat perhentian paling ideal setelah seharian bermandikan panas matahari. Dari segi harga, agak mahal memang jika makan di sini. Namun posisi restoran yang dibangun di sebuah tebing curam yang menghadap ke laut, menawarkan pemandangan sunset yang spektakuler.

Redaktur: Fini Auliany



RELATED NEWS

KULINER

My Trip Story

Oleh:
Mia Kamila
Reporter