Rumah Pengabdi Setan, Benar-benar Seram...

Oleh: Anggi Agustiani

Anggi bersama Aji saat berbincang dengan penjaga rumah. (Foto: Tim GenPI)
Anggi bersama Aji saat berbincang dengan penjaga rumah. (Foto: Tim GenPI)

Mulanya saya ragu saat ditugaskan menjadi host salah satu program GenPI.co, BitterSweet Traveler. Sebagai penikmat wisata, tak ada kata menolak. Yang saya tau Bandung banyak menyimpan seribu pesona wisata. Pokoknya Bandung keren, euy.   

Akhirnya saya berangkat bersama rombongan tim GenPI.co. Ada Ayah Dika, Mas Aji, Mas Aan, Ikbal dan Dodi. Mereka merupakan tim yang sangat menyenangkan dan sedikit menyebalkan, karena suka ngerjain saya.

Dalam perjalanan, jujur saja saya tidak diberi tahu tujuan lokasi ke Bandungnya mana. Begitu sampai Bandung, saya sempat kaget dan tarik nafas ternyata mobil yang saya tumpangi berhenti di lokasi syuting Rumah Pengabdi Setan. Film horor garapan Sutradara Joko Anwar.

Oh ya, Rumah Pengabdi Setan ini berada di area perkebunan teh PTPN VIII, Pengalengan, Bandung. saya tiba pukul lima sore, kok tumben ya perasaan saya gelisah dan tidak nyaman di lokasi. Dari kejauhan saya sudah merasakan aroma mistis, tapi saya harus memberanikan diri hingga larut malam. 

Kata penjaga rumah atau yang biasa disebut juru kunci, dulunya rumah ini peninggalan zaman Belanda. Interior dalamnya juga masih klasik dan retro. Selain itu juga masih terpajang bebrapa foto pemilik rumah dan cerita-cerita dari pemilik rumah. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. mulai kami bergegas untuk syuting, tujuan kami hanya untuk membahas dan menginformasikan spot-spot ruangan yang ada di dalam film tersebut.

Rumah Pengabdi Setan, Benar-benar Seram...Salah satu ruangan yang ada di Rumah Pengabdi Setan. Foto: Tim GenPI.co

Berawal dari ruang tamu, di mana ruangan ini dipakai sebagai titik kumpul keluarga pemilik rumah. Kebiasaan pemilik rumah, ibu yang senang merajut di ruang tamu. Anaknya, Bondi dan Ian menonton tv. Saat melangkahkan kaki masuk ke ruang tamu, hawa sudah berbeda. Saya kira hanya perasaan takut saja, tapi semua tim merasakan. 

Lalu lanjut ke ruangan sebelah, di mana ruangan itu ada dapur, sumur, dan kamar mandi. Di dalam adegan film, terlihat Rini yang sedang memasak, lalu tiba-tiba Tony membawa makanan rendang. Di ruangan dapur aku tidak merasakan hal yang aneh. 

Pindah ke ruangan sumur, tempatnya sangat gelap, tidak ada lampu. Nah, tiba-tiba hawanya berubah menjadi tidak enak, tim menjadi tegang. Ketika kita lagi berbincang-bincang dan melangkahkan kaki untuk pindah ke kamar mandi, ada suara benda yang jatuh kencang. Kami tetap melanjutkan ke kamar mandi, dimana ruangannya sudah hancur, kotor, dan kumuh.

Setelah itu, saya menghampiri kamar Bondi dan Ian. Lalu ke kamar Rini. Bergeser lagi ke lantai atas ada kamar Tony dan kamar Ibu. Menghampiri kamar Toni terlebih dahulu, lanjut ke kamar utama yang ditunggu-tunggu dan banyak dihampiri para penggunjung.

Masuklah saya dan tim ke kamar ibu, dari beberapa ruangan yang hawanya tidak enak. Ruangan inilah yang paling tidak enak. Dingin, penat, rasanya gelisah dan tidak nyaman sama sekali. Saya cukup lama membahas kamar ini, kamar ini tepat berada di lantai atas dan adapula balkon yang langsung memandang halaman depan. 

Isi ruangan ini masih sama dengan di dalam film. Kasur ibu yang menghadap jendela, dihiasi kelambu, cermin, dan lemari. Selesai sudah membahas ruangan seisi rumah, saya dan tim bergerak ingin keluar dari kamar ibu.

Tiba-tiba sang juru kunci jatuh, lalu kerasukan. Hampir 30 menit mengatasinya di dalam kamar ibu. Setelah turun ke bawah, sang juru kunci kerasukan lagi. Dan pada akhirnya dibantu dengan teman-temannya.

Mendengar cerita penjanga rumah dan teman-temannya, hampir setiap hari ada saja pengunjung yang mengunjungi rumah tersebut. Terutama akhir pekan jumlah pengunjung lebih banyak lagi. Oh iya, jika kamu ingin berkunjung masuk kerumah harus izin ke petugas PTPN VIII dan akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 20 ribu per orang. 

Masih penasaran, datang saja ke Rumah Pengabdi Setan. Benar-benar seram...


Redaktur: Cahaya

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Landy Primasiwi
Reporter
Landy Primasiwi

KULINER