Pesona Larung Ongkek Pikat Wisatawan

GenPI News
Minggu, 01 Juli 2018 18:36
Nilai Artikel :

Hari Raya Yadnya Kasada 2018 di kawah Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (30/6) sukses menyedot wisatawan. Datang dari dalam dan luar negeri, para wisatawan itu tumpek-plek di pinggir kawah Gunung Bromo. Yang mereka nantikan apa lagi kalau bukan ranggkaian sesaji atau ongklek dilrung ke dalam kawah. 

Padahal, ritual ini dimulai pada dini hari, pukul 01.00. Udara di kawasan itu juga dingin bukan main, mencapai 10 derajat selsius. Namun para pengunjung seolah acuh dengan semua itu. Mereka tetap saja rela bergerak bersama iring-iringan sesaji, meniti ribuan anak tanggak menuju puncak Bromo. Sementara doa dan rapakan mantera memenuhi udara yang dingin itu.  Momen larung sesaji ini sayang untuk dilewatkan, sebab itu adalah puncak dari perayaan Yadnya Kasada.

“Ongkek ini sebagai bentuk syukur kami bagi warga Tengger. Nanti setelah didoakan di Pura Luhur Poten. Ongkek ini akan dilarung ke kawah dengan harapan hasil bumi di sini semakin meningkat dan masyarakat suku Tengger tambah makmur,” kata Kepala Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Probolinggo.

Selain digunakan sebagai tempat beragam sesaji berupa hasil bumi, lanjut Kermat, Ongkek itu harus dipenuhi dengan bunga kumitir, bunga tanalayu, bunga waluh, kentang sepuluh buah, kubis dua bungkul dan kacang-kacangan. Tidak hanya itu ada juga daun pakis, daun beringin, daun telotok, daun tebu dua pucuk, jantung pisang dua buah, buah pare dua buah hingga buah pisang sebanyak dua sisir. Masing-masing desa di kawasan Tengger diwajibkan membawa dua ongkek, yang nantinya akan dipersembahkan ke kawah Gunung Bromo. Garam dan air laut merupakan dua hal yang dilarang dalam pembuatan ongkek.

“Setiap ritual upacara Kasada, warga mempersembahkan sesaji. Baik orang per orang atau sesaji oleh pihak desa. Untuk persembahan perorangan biasanya berupa kemenyan, kembang rampai, dan hasil bumi. Sedangkan sesaji desa, khusus di buat oleh wong sepuh (orang yang dituakan:red) dan disebut dengan ongkek,” terang Kermat.

Pihak Kementerian Pariwisata Kemenpar yang mendukung event Yadnya Kasada 2018 pun ikut sumringah. Ribuan wisman yang datang menyaksikan ritual budaya suku Tengger ini menjadi bukti kesuksesan acara tersebut.

"Sebelum Yadnya Kasada ada pre event Eksotika Bromo, itu menjadi atraksi tersendiri, sehingga membuat spending para wisman semakin lama. Yang biasanya 1-2 malam, saat ini menjadi 3-4 malam. ucap Ketua Tim Pelaksana Top 100 Calender of Event Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuti.

Event yang sudah menjadi agenda nasional ini, lanjut Esthy, kedepannya harus dipersiapkan secara maksimal dan tetap melibatkan masyarakat dan komunitas setempat.

"Kegiatan tahunan ini dampaknya luar biasa bagi masyarakat. Sebaiknya waktunya harus sudah pasti, untuk mempersiapkan dan mempromosikan jauh-jauh hari tidak hanya eventnya saja, tetapi Beyond Bromo juga diperhatikan seperti menjual paket-paket dan sebagainya. Sehingga dapat berdampak pada perekonomian warga Tengger yang berada di lereng gunung yang memiliki ketinggian 2.329 meter dari permukaan laut itu," ucapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya langsung sumringah mendengar kesuksesan Eksotika Bromo dan Hari Raya Yadnya Kasada. Menurutnya, merupakan langkah strategis dalam memperkenalkan destinasi Indonesia. Terlebih Bromo merupakan top 10 destinasi prioritas pariwisata Indonesia.

"Trendnya selalu positif. Atraksinya selalu ada. Amenitasnya semakin meningkat dengan makin banyaknya homestay di desa wisata. Aksesnya juga semakin mudah. Baik dari Bandara Juanda Surabaya maupun Bandara Abdul Rachman Saleh Malang. Selamat dan Sukses buat Eksotika Bromo,dan Yadnya Kasada," kata Menpar Arief Yahya.


Editor : Paskalis Yuri Alfred P
Kontributor : Agus Purwanto




STAY CONNECTED

JOIN OUR INSTAGRAM #GENPI