Pesona Yadnya Kasada 2018

GenPI JAWA TIMUR
Sabtu, 07 Juli 2018 20:06
Nilai Artikel :

Puncak peringatan Yadnya Kasada 2018 berlangsung meriah namun tetap khidmat. Ribuan wisatawan tanpa ragu mendaki menuju puncak Bromo untuk menyaksikan budaya turun temurun warga suku Tengger yang mendiami kawasan Bromo itu. Mereka juga mendapat bonus, yakni menikmati keindahan matahari terbitnya.

Pagi itu, kami membaur bersama para wisatawan menembus kegelapan lautan pasir Bromo. Udara 10 derajat celcius bgai mengiris daging. Tapi pesona Yadnya Kasada sudah terbayang di kepala.  

Tujuan pertama kami adalah Pura Luhur Poten yang berada di kaki Bromo. Di tempat ibadah itu,  warga Tengger melakukan upacara pengangkatan dukun dan doa doa terlebih dahulu. Jam madih menunjukkan angka  tiga dini hari. Namun sudah banyak warga Tengger dan wisatawan yang berkumpul di Pura Luhur Poten. Beberapa warga Tengger  tampak mendirikan tenda di sekitar pura. Sementara yang lainnya membuat api untuk menghangatkan tubuh.   

Sebenarnya, larung saji (ongkek)  sudah dimulai pada pukul 01:00 WIB. Masing-masing desa di kawasan Bromo membawa dua ongkek. Setiap rombongan menaiki ratusan anak tangga sambil merapal mantra-mantra. Acara larung itu berakhir sekitar pukul 15:00.

Setelah menyaksikan upacara pelantikan dukun dan doa-doa untuk sesaji,  kami baru menaiki Bromo sekitar pukul 04:00. Bersama-sama ratusan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia dan wisatawan mancanegara, kami perlahan-lahan menaiki satu persatu anak tangga yang lumayan curam. Banyak pula anak-anak suku Tengger yang ikut mendaki. Sesekali berhenti untuk beristirahat.Sebaimana setiap orang yang ada di situ,  kami pun menguatkan tekad untuk harus sampai di puncaknya. 

Ketika tiba di atas,  kami melihat beberapa warga Tengger kembali berdoa. Isinya adalah meminta berkah dan menjauhkan mereka dari malapetaka. Setelah berdoa, satu persatu sesajian dilemparkan ke dalam kawah.

Larung saji di Kawah Bromo ini adalah keunikan umat Hindu Tengger.  Di tempat sesaji biasanya memang dikhususkan untuk persembahan dan tidak diambil oleh warga. Tapi berbeda dengan di Bromo. Di  kawah Bromo ini kita bisa melihat banyak warga Suku Tengger turun sedikit ke bawah di lereng kawah.  Mereka menunuggu dan berebutan persembahan yang dilempar ke arah kawah.  

Sesaji yang berhasil mereka tangkap akan mereka bawa pulang,  untuk kebutuhan sehari hari dapur mereka.  Bisa berupa sayuran,  ayam,  kambing,  bahkan sesaji berupa uang. Tidak ada pantangan untuk mengambil sesaji di kalangan mereka.

Warga Tengger merayakan Yadnya Kasada sebulan penuh pada bulan Kasada,  bulan ke-12 dari tahun Saka. Tradisi ini ini sudah mereka lakukan secara turun temurun, dari generasi ke generasi. Ritual tersebut untuk menghormati leluhur mereka suami istri Joko Seger dan Roro Anteng,  serta putera mereka Raden Kusuma yang rela mengorbankan dirinya ke dalam kawah Gunung Bromo. 


Editor : Paskalis Yuri Alfred P
Kontributor : Yopie Pangkey




STAY CONNECTED

JOIN OUR INSTAGRAM #GENPI