Eksotisme Baliem dalam Sebuah Festival

GenPI News
Selasa, 07 Agustus 2018 20:34
Nilai Artikel :

Hari pertama pagelaran Festival Budaya Lembah Baliem ke-29 tahun 2018 berlangsung meriah. Euforia warga asli Kabupaten Jayawijaya Papua tampak jelas. Berbaur bersama wisatawan, mereka  memenuhi lokasi berlangsungnya acara di lembah Baliem Distrik Welesi Kabupaten Jayawijaya.

Fesival Lembah Baliem mengusung tema yang mendalam;  "Heki Awolok, Hape Awolok. Heki Awolok Lek Halok, Hape Awolok Legat". Artinya, "Jika Ingin Berhasil, Kita Harus Bekerja Dengan Giat".

Makna dari tema acara tahunan ke-29 ini pun nampaknya benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Wamena Papua. Ini  terlihat dalam berbagai atraksi layaknya drama panggung teater yang bercerita soal kehidupan nyata warga Wamena.

Jika biasanya layaknya pertunjukan drama digelar diatas panggung yang penuh dengan tata cahaya megah dan dekorasi menarik, namun tidak dalam pembukaan Festival Budaya Lembah Baliem ini. Tanah datar hampir setara satu lapangan sepak bola menjadi panggung aksi tretikal ini.  Sementara background Pegunungan Jayawijaya menjadi daya tarik tersendiri.

Turis mancanegara maupun lokal tak mau melewatkan kesempatan  ini untuk berswafoto dengan para peserta. Sebab mereka tampak unik dengan  pakaian adat khas Papua. Kolaborasi panggung alam dengan adat budaya lokal menghadirkan nuansa yang eksotis. Alam pun seolah bergembira dengan cuaca yang cukup bersahabat dan angin sepoi-sepoi.

Pagelaran Festival Lembah Baliem berlangsung dari tanggal 7 hingga 9 Agustus 2018. Selama tiga hari itu, beragam atraksi kearifan lokal yang ditampilkan.

Di hari pertama, ada tujuh distrik yang menampilkan atraksi budaya berupa atraksi perang. Ada juga atraksi tari-tarian, dan karapan babi. Tujuh distrik tersebut yakni Distrik Wouma, Distrik Maima, Distrik Asotipo, Distrik Pisugi, Distrik Popukoba, Distrik Walelagama, Distrik Asolokobal.

Para wisatawan juga bisa menyaksikan pertunjukan dengan nyaman. Sebab Dinas Pariwisata setempat  telah menyiapkan semuanya. Para penduduk juga sudah diajarkan tata krama menerima wisatawan dalam berbagai acara kebudayaan.

"40 distrik ini memang kami bina agar dapat disiapkan menajadi masyarakat sadar wisata sebagai tombak  untuk meningkatkan tingkat perekonomian setempat," terang Kepala Dinas Pariwisata Jayawijaya Anpius Wetipo.

Festival Lembah Baliem merefleksikan  budaya leluhur Papua yang selalu melibatkan sebuah perang suku dalam kehidupan sehari-hari. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi ini hilang karena dianggap melanggar norma kemanusiaan. Tak ingin meninggalkan kebudayaan Indonesia, Festival Lembah Baliem ini digelar agar budaya tersebut tetap dapat diceritakan kepada generasi penerus Papua.


Editor : Paskalis Yuri Alfred P




STAY CONNECTED

JOIN OUR INSTAGRAM #GENPI