Andangigi, Ritual meminta Hujan Masyarakat Bulukumba

Andangigi, Ritual meminta Hujan Masyarakat Bulukumba

Suasana ritual Andingingi sangat kental dengan nuansa magis. Selain lantara efek pepohonan besar di sekelilingnya, juga karena warna busana yang dikenakan oleh pengunjung. Semua yang hadir mengenakan busana serba hitam dan tidak boleh mengenakan alas kaki. Busana kaum pria terdiri dari passapu (penutup kepala), brak’ne (baju), dan topeh (sarung). Untuk wanita, ada bahine (baju) dan topeh lekleng (rok).

Rangkaian Andingingi ditutup dengan makan bersama. Menariknya, wadah untuk makan ini memakai tempurung kelapa. Makanan yang disajikan merupakan swadaya masyarakat Desa Tanatoa.

Rangkaian ritual Andingingi pun ditutup dengan pembagian ubai rampai. Masyarakat lalu membawa pulang air suci dan dedaunan yang sudah didoakan bersama. Piranti ini dipercaya bisa menghilangkan efek berbagai negatif. Setelah ritual, agenda dilanjutkan dengan pesta kegembiraan. Ada Tarian Pabitte Passapu dan Tunu Panroli. Tunu Panroli ini biasanya digunakan untuk menguji kebenaran sebuah fakta.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengaku senang dengan kemasan Festival Pinisi. Karena sangat kaya akan sentuhan budaya.

“Bulukumba ini memiliki kekuatan budaya luar biasa. Bukan hanya Kapal Pinisinya, tapi juga filosofi yang dibangun masyarakat Kajang. Inilah paket atraksi terbaik yang dimiliki Bulukumba. Destinasi ini memang luar biasa, apalagi ditunjang dengan aksesibilitas dan amenitasnya,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya.

ADVERTISEMENT


loading...

BERITA LAINNYA

Berita Tentang Baca Buku Terbaru dan Terkini Hari ini


PARENTING