Menyorot Budaya Jawa dalam Film 'Opera Jawa' di JAFF 2018

29 November 2018 11:15

Rangkaian acara Jogja Asian Film Festival (JAFF) 2018 masih berlanjut. Kegiatan JAFF 2018 diisi dengan pemutaran film ‘Opera Jawa’ garapan Garin Nugroho, di Cinemaxx, Lippo Mall Jogja, pada Rabu (28/11) pukul 16.00 WIB. Penonton tampak ramai dan antusias untuk menonton film ini.

Film yang diproduksi pada tahun 2006 ini, menceritakan tokoh Siti (Artika Sari Devi), Setio (Martinus Miroto), Ludiro (Eko Supriyanto) bekas penari wayang orang. Mereka memainkan lakon Rama-Sinta ke dalam kehidupan nyata.

Di awal film diceritakan bahwa Setyo adalah seorang pengusaha gerabah dan Ludiro adalah seorang pedagang daging sapi. Keduanya menyukai Siti yang dulunya seorang penari. Namun Siti telah menjadi istri Setyo dan tidak lagi menjadi penari. Ludiro hendak merebut Siti dari Setyo. Di sisi lain Siti selalu merasa kesepian karena sering ditinggal Setyo untuk berdagang gerabah. Di situlah celah Ludiro untuk mendekati Siti.

Seperti judulnya sebuah film opera, seluruh adegan dilakukan dalam nyanyi dan tari, tidak ada dialog. Seluruh musik dan lirik dalam film ini berdasar dari gamelan dan tembang dalam bahasa Jawa. Di samping musiknya, keistimewaan film ini juga terletak pada para pelukis yang membuat seni instalasi untuk latar adegan.

Saat pemutaran film Opera Jawa di JAFF, sang sutradara Garin Nugroho juga datang ke Cinemaxx untuk menyapa para penonton. Dalam kesempatan tersebut Garin bercerita tentang pembuatan filmnya yang epik tersebut.

“Sebenarnya semua film-film saya kan emang gak pake dialog ya, nggak ada skenario. Saya seperti wayang ketoprak aja, langsung aja tunjuk pemerannya. Seperti film ini yang terjadi begitu saja. Film ini juga berdasar pada ide Mozart, untuk memperingati 250 tahun Mozart di Austria,” kata Garin.

Film ini mewakili banyak konflik yang terjadi di masyarakat, seperti sosial ekonomi, kekuasaan dan cinta. Hanya saja jika orang tak mengerti dengan alur dan dialog yang terjadi maka informasi yang ingin disampaikan juga tidak akan sampai. Meski demikian, penonton yang sebagian besar berasal dari Jakarta tetap antusias untuk menyaksikan film ini. Mereka memang menggemari karya-karya Garin Nugroho.

“Keren banget filmnya, kental banget unsur budayanya. Film ini nggak ada skenarionya dan semuanya pakai tarian dan tembang Jawa. Selain itu ada juga unsur-unsur budaya lainnya, seperti Banyumas, Bali dan Dayak,” kata Pipit, salah satu penonton Opera Jawa JAFF 2018, di Cinemaxx, Rabu (28/11).

Moderator yang akan mengisi diskusi Focus on Garin di JAFF Ekky Irmanjaya mengatakan bahwa Garin adalah salah satu sutradara Indonesia yang paling produktif dan menonjol.

“Menariknya, Mas Garin tidak pernah membuat film dengan tampilan dan nuansa yang sama, selalu mencoba untuk membuat berbagai jenis film, mencoba pendekatan dan gaya yang berbeda dan menyoroti budaya dan tradisi Nusantara yang kaya,” ungkap Ekky yang juga merupakan dosen Jurusan Film di Universitas Bina Nusantara.

Film Opera Jawa sendiri pernah mendapat sejumlah penghargaan. Di antaranya masuk sebagai nominasi Festival Film Internasional Venesia 2006, Festival Film Internasional London 2006  dan Festival Film Internasional Toronto 2006. Dalam Festival International Film Independent Bruxelles Ke-35 di Brussel, Belgia, 4-9 November 2008, film ini juga meraih penghargaan tertinggi untuk kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Garin Nugroho), dan Aktris Terbaik (Artika Sari Devi).

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

JAFF 2018   Opera Jawa   Garin Nugroho   Budaya   Jawa   Film  

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2024 by GenPI.co