Dedengkot ISIS Tewas dalam Serangan AS, Rekam Jejaknya Mengerikan

04 Februari 2022 08:25

GenPI.co - Dedengkot ISIS, yang dinyatakan AS tewas dalam serangan pasukan khusus pada Rabu (2/2) malam, dijuluki Penghancur karena rekam jejaknya yang mengerikan. 

Dia bernama Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurashi yang juga dikenal sebagai Amir Mohammed Said Abd al-Rahman al-Mawla.

Qurashi  naik ke puncak pimpinan setelah pendiri ISIS  Abu Bakr al-Baghdadi meledakkan dirinya dalam serangan pasukan khusus AS pada Oktober 2019.

BACA JUGA:  Damaskus Berguncang, Serangan Udara Rudal Israel Sungguh Ngeri

Low profile tapi brutal, Qurashi sebagian besar bergerak di bawah radar intelijen Irak dan AS sehingga sulit dilacak keberadaannya.

Qurashi mengambil alih pada saat ISIS telah dilemahkan oleh serangan pimpinan AS selama bertahun-tahun dan runtuhnya "kekhalifahan" yang diproklamirkan kelompok itu di Suriah dan Irak utara.

BACA JUGA:  Saat Fasilitas Nuklir Diserang Israel, Iran langsung Lakukan ini

Departemen Luar Negeri AS memberikan hadiah USD 10 juta untuk kepala Qurashi  dan menempatkannya dalam daftar "Teroris Global Khusus".

Lahir di kota Tal Afar di Irak utara dan diperkirakan berusia pertengahan 40-an, kenaikannya di jajaran kelompok ekstremis jarang terjadi bagi non-Arab, yang lahir dalam keluarga Turkmenistan.

BACA JUGA:  Kim Jong Un Menunggangi Kuda Putih, ada Pesan Tersembunyi

Catatan lembaga pemikir Counter Extremism Project (CEP) menyebut, dia pernah tentara Irak di bawah Saddam Hussein, mendiang diktator yang digulingkan oleh invasi pimpinan AS ke Irak pada tahun 2003.

Qurashi kemudian bergabung dengan barisan Al-Qaeda setelah Hussein ditangkap oleh pasukan AS pada tahun 2003.

Pada tahun 2004, ia ditahan oleh pasukan AS di penjara Camp Bucca yang terkenal di Irak selatan, tempat Baghdadi dan sejumlah tokoh ISIS di masa depan bertemu.

Setelah keduanya dibebaskan, Qurashi tetap berada di sisi Baghdadi saat ia mengambil kendali cabang Al-Qaeda Irak pada 2010.

Keduanya kemudian membelot untuk mendirikan Negara Islam Irak (ISI), kemudian Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

CEP menyebut pada tahun 2014, Qurashi membantu Baghdadi menguasai kota utara Mosul, 

Lembaga pemikir tersebut mengatakan bahwa Qurashi "dengan cepat memantapkan dirinya di antara jajaran senior pemberontak dan dijuluki 'Profesor' dan 'Penghancur'".

Dia sangat dihormati di antara anggota ISIS sebagai "pembuat kebijakan brutal" dan bertanggung jawab untuk "menghilangkan mereka yang menentang kepemimpinan Baghdadi", 

“Dia mungkin paling dikenal karena memainkan peran utama dalam kampanye jihad likuidasi minoritas Yazidi (Irak) melalui pembantaian, pengusiran dan perbudakan seksual," kata Jean-Pierre Filiu, seorang analis jihadisme di Universitas Sciences Po di Paris.

Hans-Jakob Schindler, mantan pejabat PBB dan direktur CEP, menyebut kematiannya sebagai "kemunduran besar bagi ISIS" dalam hal kehilangan pemimpin kedua, tetapi ragu itu akan menjadi pengubah permainan.

Pasalnya, ISIS diperkirakan mempersiapkan kondisi ketika para pemimpinnya terbunuh dengan rencana siapa yang akan mengambil alih.

Schindler mengatakan Quraishi bukan pemimpin yang sangat transformasional, karena ISIS telah mulai beralih dari kelompok yang menguasai wilayah di Irak dan Suriah ke jaringan internasional organisasi jihad di bawah Baghdadi.

Tapi Filiu berpendapat bahwa kematian Qurashi bisa lebih sulit untuk diatasi daripada Baghdadi.

“Dia adalah "seorang kepala operasional sejati yang eliminasinya berisiko mencegah kebangkitan kelompok jihad, setidaknya untuk sementara,” kata Filliu

Damien Ferre, direktur konsultan Jihad Analytics, mengatakan bahwa warisan Qurashi akan menjadi penguatan cabang ISIS di Afghanistan, yang semakin aktif sejak Amerika Serikat setuju pada 2020 untuk menarik pasukannya dari negara itu.(AFP)

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2025 by GenPI.co