Kampung yang berdiri sepenuhnya di atas laut.

Tengok Uniknya Kampung Laut Enggos di Papua

Di Jayapura, Papua, ada sebuah pemukiman eksotik. Kampung Laut Engros, demikian namanya. Situs ini menjadi bukti metamorfosa budaya dari rasa pegunungan menjadi bahari. .

Lokasinya berada di dalam area Taman Wisata Alam Teluk Youtefa, Jayapura, Papua. Hampir seluruh kawasan perkampungan ini berupa air. Dan, rumah warga dibangun dengan tiang-tiang khusus.

“Orang mungkin lebih kenal Bajo, tapi Papua juga memiliki kampung laut. Salah satunya Kampung Laut Enggros ini. Masyarakat di sini hidup dalam tradisi yang sudah turun temurun. Semua masih terpelihara dengans sangat baik,” ungkap Kepala Kampung Enggros Orgenes Meraudje, Rabu (5/12).

Secara geografis, Kampung Laut Enggros diapit Tanjung Pie dan Saweri. Kampung ini dipisahkan dari Papua daratan oleh Selat Tobati. Selain pegunungan dan laut, Enggros juga memiliki background baru berupa Jembatan Holtekam. Familiar sebagai Jembatan Merah, bangunan sepanjang 732 meter ini jadi landmark baru Papua. Rencananya, pertengahan Desember ini akan diresmikan Presiden Joko Widodo.

“Sebagai destinasi wisata, kini Kampung Laut Enggros semakin lengkap. Sebab, di sini ada Jembatan Merah. Pemandangan di sini memang bagus. Airnya sangat jernih dan tidak ada ombak. Ikan-ikan dan dasar laut kelihatan. Komposisi ini semakin menguatkan profil desa wisata ini,” terang Orgenes lagi.

Keindahan alam dan budaya melebur jadi satu di kampung Laut Enggos. Memiliki luasan 33x37 kilomter, pemukiman didiami oleh 160 kepala keluarga. Total ada 600 jiwa yang hidup di dalamnya. Kawasan ini terbagi dalam 2 Rukun Warga (RW)dan 4 Rukun Tetangga (RT).

“Semua kegiatan masyarakat dilakukan di atas perairan Teluk Youtefa ini. Transportasi menggunakan perahu. Fasilitas di sini sudah lengkap, apalagi listrik juga sudah masuk ke sini. Yang jelas ada banyak keunikan yang dimiliki kampung ini,” ujar Orgenes.

Berada di atas air, konektivitas rumah antar warga dihubungkan dengan jeramba. Jeramba ini adalah jembatan kayu. Saat ini panjang total jeramba mencapai 2.000 meter dan akan mengalami penambahan 1.000 meter pada tahun 2019. Wilayah ini juga dilengkapi dengan villa terapung, gazebo, balai adat, dan berbagai spot budidaya ikan. Lebih eksotis lagi, di sini banyak terdapat bintang laut.

Menegaskan kearifan lokal, Kampung Laut Enggros ini memiliki 2 zona yang dibedakan menurut genre. Melestarikan tradisi, lelaki memiliki zona aktivitas di Panggung Adat. Di dalam bangunan ini, para lelaki belajar hukum adat dan pranata sosial. Para kaum perempuan diberi wilayah di sekitar hutan mangrove. Mereka bisa menjalankan berbagai aktivitas, seperti menangkap kepiting.

“Pembagian zona bagi kaum lelaki dan perempuan di sini sangat jelas. Semua belajar bagaimana etika itu dijaga. Semua didasarkan menurut perinsip adat. Dari nenek moyang sudah demikian,” tuturnya.

Kampung Laut Enggros ini memiliki filosofi T’sokatd, Tbosadd, dan Trasyud. Artinya, mari berkumpul lalu saling berbicara dan berikutnya direalisasikan dalam bekerja. Lebih lanjut, kampung ini memiliki memiliki histori kuat. Nama Enggros diadopsi dari Injros. In artinya tempat, lalu Jros bermakna dua. Hal ini sesuai dengan asal muasal nenek moyang mereka.

Para leluhur Kampung Laut Enggros ini berasal dari Pegunungan Cyclops. Wilayah Cyclops ini berada di Kabupaten Jayapura. Pegunungan ini membentang 36 kilometer dengan 6 puncak. Puncak tertinggi adalah Gunung Haelufoi (1.970 mdpl). Para leluhur Enggros akhirnya memilih perairan sebagai tempat tinggalnya karena dinilai lebih aman.

Kampung Laut Enggros ini memiliki beragam tarian dengan filosofi tinggi. Ada Tari Shia yang hanya diperuntukan untuk menyambut tamu-tamu penting. Enggros juga ada Tarian Obipapa yang menjadi gambaran persaudaraan dan hangatnya masyarakat di sana. Ada juga Tari Omande yang menggambarkan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Memiliki diversitas tinggi, Kampung Laut Enggros dibangun sedikitnya oleh 11 suku. Ada Suku Meraudje, Sanye, Gerunyi, Sembra, Hanasbe, juga Itar. Di sana juga didiami oleh Suku Hamadi, Afar, Iwo, Hababok, Maigoda, hingga Samalo. Kolaborasi besar ini disimbolkan melalui simbol 2 Ikan Layar dengan mulut saling bertemu. Ikan ini memiliki sirip besar sebagai gambaran suku-suku tersebut.

Citra positif memang dimiliki Kampung Laut Enggros. Pada 2016, kampung ini terpilih sebagai Juara 3 Lomba Kampung Tingkat Nasional. Kampung ini juga terkoneksi dengan beberapa spot wisata sejarah. Sebab, pada perairan di Kaki Bukit Meer terdapat kapal Jepang sisa Perang Dunia II. Kapal ini muncul di permukaan. Lalu, pada sisi lain bukit ini juga terdapat Goa Jepang.

Reporter: Cholis Faizi Sobari

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS