Orang Nagekeo Bertinju Pakai Tanduk Kerbau, Berani Coba?

Dua petarung sedang jual beli pukulan dan dikelililngi beberapa wasit (Foto: Istimewa)
Dua petarung sedang jual beli pukulan dan dikelililngi beberapa wasit (Foto: Istimewa)

Soal ritual ekstrim, Indonesia gudangnya. Coba langkahkan kamu ke Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT. Di tempat itu ada olahraga tinju tradisional. Itu saja? Tunggu sampai kamu tahu ‘sarung tinju’ yang digunakan. Potongan tanduk kerbau yang diikatkan dengan ijuk pada tangan . ‘Sarung’ ini lebih sebagai senjata pemukul yang tentu saja menyakitkan jika mendarat di badan.

Masyarakat setempat menyebut olahraga itu sebagai  Etu atau Tinju Adat. Etu dimainkan oleh dua orang laki-laki diarena serta beberapa wasit, tinju tradisional ini merupakan bagian dari adat untuk merayakan kehidupan. Jadi, alih-alih mencari musuh, Etu adalah  pertarungan untuk mempersatukan masyarakat.

Durasi bagi para pemain tergantung dari kekuatan para petarung menyerang dan mempertahankan diri dari pukulan lawan.  Namun, pertandingan dapat diberhentikan ketika salah satu ada yang sampai berdarah.

Tinju adat hanya diperuntukkan bagi laki-laki, kaum wanita bahkan tidak diperbolehkan masuk diarena pertandingan.

Saring tinju digunakan oleh satu tangan. Sementara tangan yang lain berfungsi untuk menangkis serangan lawan. Karena ini adalah jenis olahraga ekstrim dan berisiko tinggi, maka wasit pertandingan lebih dari satu. Selain itu, ada pengawasan penuh dari pihak luar guna mencegah permainan semakin membabi buta.

Pertarungan tinju Etu ini biasanya dilaksanakan ketika masa memanenyakni pada bulan Juni – Juli. Pertandingan ini hanya bisa dilaksanakan di kisa nata atau alun-alun, sa’o waja (rumah adat) karena tempat tersebut merupakan pusat aktivitas acara adat dan kebudayaan.

DIrangkum dari berbagai sumber, tinju adat Etu  terbagi atas beberapa tahapan. Pertama yaitu tinju anak-anak, pertarungan ini dirayakan pada malam dan sore hari, dalam pertarungan ini hanya diperbolehkan masyarakat setempat dan kampung tetangga yang berdekatan. Sesudah pertandingan selesai, biasanya diadakan tarian tradisional dengan menggunakan alat musik seperti gong dan gendang.

Tahap kedua, tinju diperuntukkan bagi dewasa biasanya diadakan keesokan harinya setelah pertarungan Etu anak-anak.  Tinju adat dewasa dilaksanakan pada hari sabtu sore hingga hari mulai gelap. Jika ada kekacauan yang terjadi diluar dugaan, alat musik akan dibunyikan dan seorang tua yang menunggang kuda berlari mengelilingi arena, hal ini menandakan bahwa pertarungan telah usai.

Tahap terakhir adalah hiburan. Pada momen ini ditampilkan tarian tradisional yang disebut wa’i sekutu. Masyarakat yang merayakan membentuk lingkaran  mengelilingi api sambil manri. Minuman tradisional moke kemudian disuguhkan Tarian akan dilaksanakan sepanjang malam hingga matahari terbit. Momentum ini paling tepat  bagi pemuda pemudi setempat untuk mencari  pasangan.

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Hafid Arsyid
Reporter
Hafid Arsyid

KULINER