Stories: Share your traveling moment!

Tampilan Baru Bir Pletok Zaman Now

Bir Pletok zaman now dikemas botol dalam kondisi dingin. (Foto: Mia Kamila)
Bir Pletok zaman now dikemas botol dalam kondisi dingin. (Foto: Mia Kamila)

Mendengar Bir Pletok tentu sudah tidak asing. Namun apakah sebagain orang tahu bentuk dan rasa dari minuman khas Betawi yang sudah makin jarang ditemukan. 

"Karena kita bergerak dalam komunitas pelestarian budaya Betawi, kami tidak mau kuliner Betawi mulai tergantikan dengan kuliner luar." Tutur Ichsan, penjual bir pletok peci merah kepada tim GenPI.co, Senin (14/1).

Tidak mau tergerus oleh zaman dua pemuda asal Condet, Opik dan Ichsan memilik gagasan untuk menghidupkan kembali kuliner Betawi. Salah satunya adalah Bir Pletok. Mereka kembali memperkenalkan bir pletok kepada masyarakat dengan penampilan baru, yaitu dengan menggunakan botol plastik dan dalam kondisi dingin, mirip seperti soft drink. 

Baca juga: Selendang Mayang, Minuman Cantik dari Betawi


Biasanya bir pletok dijual dengan menggunakan gelas dalam kondisi panas. Kendati demikian minuman bir pletok pun hanya bisa dijumpai di even-even tertentu dan pada hari raya saja. Namun, kali ini bir pletok bisa didapatkan di Car Free Day di sekitar bundahan HI, Jakarta Pusat setiap hari minggu. 

Minuman yang berbahan dasar rempah-rempah seperti kapulaga, jahe, biji pala dan kayu manis ini memang memiliki banyak sekali khasiat salah satunya bisa membuat badan menjadi hangat dan bertenaga. Warna merah pada bir pletok berasal dari kayu secang. 

Minuman bir pletok ini berasal dari masa penjajan Belanda. Pada masa itu masyarakat Betawi ingin memiliki senuah minuman yang bisa menghangatkan tubuh seperti Beer yang diminum orang-orang Belanda. Akhrinya masyakarakat Betawi memiliki ide untuk membuat minuman dengan memiliki khasiat yang sama. Sedangkan nama kata "pletok" sendiri dihasilkan dari kemasan botol beling dengan tutup kayu yang dibuka menghasilkan suara pletok. 

Sementara versi lain mengatakan bahwa dulunya bir pletok sebelum disajikan dituang di wadah kaleng ditambah es batu dan digoyang, sehingga menghasilkan bunyi pletok-pletok. Entah mana yang benar, yang jelas kuliner daerah semacam bir pletok memang layak dilestarikan.


Reporter: Mia Kamila

Redaktur: Cahaya



RELATED NEWS