Menko Luhut Ajak Bersihkan Bali Lewat Sakenan.

ilustrasi membersihkan Bali. ( Foto: Google Image)
ilustrasi membersihkan Bali. ( Foto: Google Image)

Kebersihan Bali mendapat perhatian Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Deklarasi Sakenan pun diluncurkan. Lewat deklarasi ini, Luhut mengajak masyarakat membersihkan Pulau Dewata dari sampah.

Deklarasi Sakenan dikumandangkan Luhut bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dan masyarakat adat, Selasa (9/10), di Pura Sakenan, Bali.

Menurut Menteri Luhut, deklarasi ini bukan hal baru. Deklarasi Bali bersih telah dicanangkan 6 Juli lalu. Saat itu, deklarasi disaksikan juga oleh Presiden World Bank Group Jim Kim, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo. 

Menko Luhut melanjutkan, kebersihan sampah di pulau Bali merupakan masalah yang sangat mendesak.  Penangannya harus secara terintegrasi.

“Saya bersyukur pada hari ini kita bisa bersama-sama berkumpul di tempat yang suci di Wantilan Pura Sakenan untuk mendeklarasikan semua pemimpin-pemimpin masyarakat Bali untuk membersihkan pulau Bali ini dari sampah,” kata Menko Luhut di lokasi.

Menurutnya, pemerintah telah bekerja sama dengan Universitas Udayana. Tujuannya untuk meneliti dampak sampah ini. Hasilnya cukup mencengangkan. Pada 5 Oktober lalu, ditemukan kandungan mikroplastik sebesar 80 persen dari dalam tubuh ikan yang ditangkap di Bali. 

"Jadi kita bayangkan sekarang ini mungkin kita sudah makan ikan yang perutnya dalam mikroplastik. Padahal itu akan berbahaya dan akan membuat toxic dan juga bisa untuk merusak generasi yang akan datang dari orang Bali," tutur Menko 

Berdasarkan hasil penelitian, ikan yang memakan makanan yang mengandung mikroplastik memiliki dampak buat wanita yang sedang hamil. Sebab, anak yang dilahirkan akan bisa masuk dalam kategori stunting (cebol). 

Oleh karena itu Menko Luhut mengajak semua pihak untuk menyadari dan membuat  rencana aksi nasional untuk penanggulangannya. 

“Karena sampah mempunyai dampak negatif pada sektor pariwisata, kerusakan lingkungan dan ekosistem laut dan kesehatan manusia,” ujarnya beralasan. 

Untuk menangani masalah ini, Presiden sudah mengeluarkan aturan no 3 tahun 2018. Isinya tentang penanganan sampah laut dengan mengurangi target sampai 70 persen pada tahun 2025.

Angka 70 persen itu, tambah Menko, merupakan target ambisius yang harus dicapai. 

"Tapi saya kira dengan tadi dijelaskan oleh bapak ketua adat di sini dan juga bapak Wagub saya percaya budaya Bali itu akan bisa untuk membantu ini. Nah sekarang komitmen kita saja mau bagaimana, karena Bali sebagai turis destinasi wisata no 1 di Indonesia. Bila kita tidak rawat budayanya, tidak rawat lingkungannya, maka orang juga akan malas nanti datang kemari,” tegasnya

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS

KULINER