Kebaya Klasik, Identitas Bangsa yang Makin Dicintai

Salah satu koleksi kebaya klasik rancangan Vera Kebaya (Foto: Instagram/ @verakebaya)
Salah satu koleksi kebaya klasik rancangan Vera Kebaya (Foto: Instagram/ @verakebaya)

Kebaya merupakan salah satu identitas budaya bangsa di sektor tekstil. Beragam kebaya lahir dari berbagai daerah, seperti kebaya encim dari Betawi, Kutubaru, kebaya Kurung, Kartini, Jawa, hingga Bali pun ada. Seiring dengan perkembangan jaman, kebaya mengalami banyak modifikasi.

Menurut  desainer kebaya Vera Anggraeni, dalam kurun waktu 5 tahun belakangan ini tren kebaya justru kembali lagi ke masa keemasannya, yakni klasik. Tentu kebaya klasik memiliki pakem yang harus dipegang perancang manapun dalam berkarya.

"Dinamakan kebaya karena ada pakem yang tak bisa dilanggar. Khasnya siluet badan dan kerah. Biasanya yang paling umum kerah V dan kutu baru. Sedangkan saat ini sudah berkembang kaya cutting off shoulder. Nah itu bukan klasik namanya," ujar Vera belum lama ini.

Lebih lanjut pemilik label 'Vera Kebaya' itu menambahkan, sah-sah saja melakukan modikasi selama bisa mengikuti aturan. Misalnya saat ini telah banyak kebaya yang dibuat lebih loose alias tidak body fit khusus untuk perempuan berhijab. Sedangkan untuk menutupi area lehernya bisa menggunakan manset.

"Kebaya klasik itu ada aturan adatnya. Kalau memang mau pake cutting off shoulder, sebaiknya jangan dipadu padankan dengan hiasan tradisional di atasnya. Kecuali untuk after party baru bisa pakai pengembangan yang modern," sambung perancang asal Medan, Sumatera Utara itu.

Untuk bertahan di industri fashion, Vera mengaku tetap memegang teguh karakternya. Ia konsisten dengan siluet body fit namun tetap sopan, terlebih jika akan dipakai untuk acara sakral pernikahan. Hal ini ia lakukan untuk menjaga pakem tradisi yang sudah ada sejak dulu.

"Saya selalu berusaha mengarahkan, kalau untuk resepsi seksi oke tapi harus sopan, Karena banyak pengantin yang nggak mau nurut. Ada yang minta buka-bukaan, saya nggak mau," tambahnya.

Sebagai simbol perempuan Indonesia, Vera tentu mempertimbangkan aspek kesopanan dalam siluet kebaya. Ia selalu menekankan pada setip kliennya, bahwa modifikasi boleh dilakukan selama tetap memegang prinsip dan identitas.

Reporter: Hafid Arsyid

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS

KULINER

My Trip Story

Oleh:
Anggi Agustiani
Reporter