Menikmati Kopi Sidikalang di FDT 2018

Kompetisi menyeduh Kopi Sidakalang di FDT.
Kompetisi menyeduh Kopi Sidakalang di FDT.

 Sejumlah potensi daerah ditampilkan pada Festival Danau Toba (FDT) 2018. Di zona 2 atau venue B, tepatnya di area Makam Raja Silahisabungan atau Tugu Silalahi, digelar pula Festival Kopi Sidikalang.

Kopi Sidikalang adalah salah satu komoditas unggulan dari Sumatera Utara. Meski tak sepopular Kopi Mandailing, citarasa yang dihasilkan cukup memikat. Bagi pecinta kopi dari generasi milenial, rasa Kopi Sidikalang cenderung fruty. Ada sedikit rasa asam, namun berikutnya terasa manis.

Festival Kopi Sidikalang menampilkan lima dewan juri. Masing-masing dari petani kopi, pemerhati kopi, pemilik kedai kopi, dan masyarakat penikmat kopi. Pesertanya lumayan banyak. Ada belasan orang, namun kemudian mengerucut menjadi enam orang.

Dalam perlombaan ini, tiap peserta memamerkan kecakapannya menyeduh kopi Sidikalang. Mulai dari teknik Pour Over dengan peralatan V60, French Press, hingga Vietnam Drip.

Baca juga: Ragam Kegiatan Menarik di Festival Danau Toba

Teknik Pour Over atau biasa dikenal V60, menjadi salah satu cara terpopuler yang biasa dipakai oleh barista. Untuk mendapatkan citarasa yang diinginkan, maka takaran pun harus diperhatikan.

Waktu penyeduhan pun harus tepat, tidak boleh terlalu lama atau terlalu cepat. Karena itu, barista perlu menyiapkan stopwatch. Setelah bubuk kopi dimasukkan dalam filter, tuang 50 gram air panas untuk blooming. Aduk dasar kopi beberapa kali dengan sendok kecil, lalu diamkan.

Setelah 30 detik, tuang kembali air dengan pola spiral memutar ke sisi luar kopi. Lakukan hingga pinggiran ampas kopi ikut larut dan bersih. Dengan kata lain, tidak ada bubuk kopi kering yang muncul di permukaan.

Semenit kemudian, tuang kembali 100 gram air panas dengan arah memutar spiral ke bagian luar. Agar ampas kopi lebih rata, angkat sedikit coffee dripper lalu banting perlahan ke range server. Tunggu hingga semua air hilang, lalu sajikan.

Untuk teknik seduh kopi french press, tiap barista membutuhkan alat khusus yang lebih modern. Alat ini terdiri dari  tabung silinder, terbuat dari kaca atau plastik bening. Alat ini dilengkapi dengan logam atau tutup plastik, disertai kawat atau nilon mesh filter.

Demi mendapat rasa kopi yang nikmat, cara penyeduhan pun tak boleh asal. Suhu kopi harus pas, antara 90-95 derajat. Jika terlalu panas, kopi akan mengeluarkan rasa pahit. Sebaliknya, kalau air kurang panas, rasa kopi pun kurang enak.

Setelah bubuk kopi dimasukkan dalam french press, tuang air panas secukupnya antara 30-45 detik. Proses ini disebut blooming, untuk melepas gas karbon penghasil rasa pahit. Beberapa detik kemudian, tuangkan sisa air.

Lanjut ke Vietnam Drip, teknik ini menggunakan alat yang lebih sederhana. Berbahan stainless steel, belakangan alat ini cukup populer di Indonesia. Untuk penyeduhan, digunakan rasio perbandingan antara bubuk kopi dengan air. Umumnya, dalam 10 gram bubuk kopi dibutuhkan air sebanyak 120 ml. Idealnya, air yang digunakan bersuhu sekitar 92-95 derajat celcius.

Langkah penyeduhan, tuang terlebih dahulu air panas sebanyak 20 ml. Diamkan selama 20 detik, agar bubuk kopi terekstraksi sempurna. Selanjutnya, tuang semua air panas yang tersisa ke dalam filter, lalu tutup rapat. Proses penyeduhan berlangsung cukup lama, sekitar 4-5 menit. Setelah proses penyeduhan selesai, tekan bubuk kopi basah dengan plunger. Vietnam Drip siap dinikmati.

Pengamat kopi dari Universitas Sumatera Utara (USU) TM Gurning mengungkapkan, ada beberapa jenis kopi arabika yang dibudidayakan masyarakat setempat. Antara lain Mandailing, Karo, Gayo, Sidikalang, Lintong, Simalungun, dan Deli Serdang.

"Kopi merupakan komoditi ke tiga di Sumatera Utara, setelah sawit dan karet yang diekspor ke Belanda dan Amerika Serikat. Bagi penikmat kopi, seduhan kopi asli tanpa gula merupakan sebuah kenikmatan tersendiri," ujarnya.

Menurutnya, harga kopi di pasar dalam negeri saat ini cukup tinggi. Dalam bentuk biji, harganya bisa mencapai Rp38 ribu. Sedangkan dalam bentuk bubuk, bisa dijual dengan harga Rp75-100 ribu.

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS

KULINER

My Trip Story

Oleh:
Anggi Agustiani
Reporter