Wisata Museum, Cara Mudah Memahami Masa Lalu

Pengeras suara tua ini milik marsaoleh Alexander Uno yang menjadi koleksi Museum Papa Eyato Gorontalo. (Foto: RA Azhar)
Pengeras suara tua ini milik marsaoleh Alexander Uno yang menjadi koleksi Museum Papa Eyato Gorontalo. (Foto: RA Azhar)

Bagi sebagian masyarakat museum adalah sekadar tempat menyimpan benda-benda masa lalu, mulai masa pra-sejarah hingga masa kemerdekaan.

Namun bila diseriusi, mengunjungi museum adalah wisata yang mengasyikkan, apalagi didampingi oleh orang petugas atau orang yang paham dengan koleksi museum.

Biasanya benda koleksinya diletakkan sesuai urutan atau periodesasi, dimulai dari pra-sejarah yang menapilkan koleksi gerabah, kapak batu atau lainnya yang digunakan oleh manusia pra-sejarah. Kebudayaan mereka masih sederhana tercermin dari benda yang digunakan dalam aktiftas sehari, hari.

Peninggalan masa Hindu/Budha biasanya yang paling banyak ditampilkan. Koleksi ini adalah peninggalan masa kerajaan yang ditemukan secara tidak sengaja oleh masyarakat atau melalui ekskavasi oleh para arkeolog. Benda-benda ini biasanya terbuat dari batu dan logam, bahkan perhiasan emas juga ada.

“Melihat langsung koleksi ini beda dengan melihat foto atau gambar di buku, dengan berkujung ke museum bisa dirasakan gambaran masa lalu yang lebih baik,” ujar Abdul Sandi, mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah di Gorontalo, Kamis (3/1).

Ada juga peninggalan benda dari luar negeri, misalnya keramik, uang atau senjata dari Tiongkok. Benda ini didatangkan dari asalnya melalui perdagangan internasional.

Koleksi masa Islam di Indonesia juga sangat menarik seperti kitab Alquran bertulis tangan dengan ragam hiasnya dari berbagai pelosok daerah. Penanda makam (nisan) Islam juga acap dipamerkan sebagai koleksi yang patut diketahui.


Benda peninggalan masa kolonial juga sangat menarik seperti meriam, senjata tradisional, seragam adat perhiasan kerajaan, peralatan militer dan lainnya.  


RELATED NEWS