AP II Diminta Kelola Bandara Internasional Hanandjoeddin

Bandara Internasional Hanandjoeddin. (Foto: Tribunnews)
Bandara Internasional Hanandjoeddin. (Foto: Tribunnews)

PT Angkasa Pura II (AP II) diminta mengelola Bandara Internasional Hanandjoeddin Tanjung Pandan  di Kepulauan Belitung. Permintaan ini disampaikan Bupati Belitung, Sahani Saleh saat menerima direksi AP II yang dipimpin Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin, Selasa (26/3).

Sahani Saleh optimis kerja sama ini akan semakin memberikan dampak positif bagi  Belitung. Sebab menurutnya, Bandara Internasional Hanandjoeddin Tanjung Pandan memiliki potensi besar dalam hal mendongkrak perekonomian setempat.

Data Kementerian Perhubungan, jumlah pergerakan pesawat di Bandara Hanandjoeddin pada tahun 2018 sebanyak 9.534. Sementara pergerakan Kargo sebanyak 3.299 ton per tahun. Sedangkan jumlah pergerakan penumpang pesawat udara sebanyak 1.044.210 pax per tahun.

"Data ini cukup jelas menggambarkan bahwa Kabupaten Belitung memiliki potensi peningkatan jumlah pergerakan yang cukup besar," ujar Sahani.

Sementara Awaluddin mengatakan, kerja sama ini juga merupakan bentuk komitmen AP II dalam mendukung pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK Pariwisata). Serta membantu pemerintah daerah dalam mempromosikan Kawasan Geopark Belitung.

Kunjungan AP II kali ini merupakan kelanjutan dari Penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) antara AP II dengan Pemerintah Kabupaten Belitung yang dilaksanakan pada 21 September 2018 lalu.

Adapun progress sementara hingga saat ini, sedang dilakukan proses inventarisasi aset Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) oleh Direktur Jenderal Kekayaan Negara dan Kementerian Perhubungan. Dimana akan dilanjutkan dengan Inventarisasi Aset dan Penilaian Proposal Bisnis oleh DJKN, Penetapan Nilai KSP oleh DJKN, hingga pada akhirnya Penandatangan Perjanjian KSP.


Sejumlah rencana pengembangan akan dilakukan AP II di Bandara Internasional Hanandjoedding. Antara lain, pengembangan terminal, pengembangan apron, serta taxiway yang diprediksi memakan biaya investasi hingga tahun 2048 sekitar Rp 560 miliar.


RELATED NEWS