Mau Lihat Proses Minyak dari Perut Bumi, Datang ke Desa Wisata Ini

Desa Wisata Migas yang berada di Bojonegoro, Jawa Timur. (ist)
Desa Wisata Migas yang berada di Bojonegoro, Jawa Timur. (ist)

Butuh penyegaran dengan destinasi wisata yang berbeda dari yang telah ada? Bagaimana dengan berwisata ke tambang minyak tradisional, satu-satunya di Indonesia  yang telah beroperasi puluhan tahun.

Desa Wonocolo berada di Bojonegoro, Jawa Timur, dan sejak beberapa tahun yang lalu desa ini menjadi desa wisata bertema pertambangan minyak. Nama desa pun dibubuhi kata ‘Teksas’ yang merupakan kependekan dari ‘Tekad Selalu Aman dan Sejahtera.’

Traveller yang berkunkung ke Wonocolo akan melihat pemandangan unik dimana ratusan menara hitam pompa minyak yang terbuat dari kayu jati berdiri menjulang di antara hijaunya pepohonan, mesin truk yang dijadikan alat penggerak pompa minyak, tumpukan besi tua, dan tanah bercampur minyak.

Baca juga: Destinasi Instagramable Ini Ternyata Bekas Tambang

Pemandangan ini merupakan hasil dari bertahun-tahun kegiatan penambangan minyak tradisional yang dilakukan oleh warga Wonocolo atas tambang tua peninggalan penjajah Belanda. Terdapat sekitar 250 tambang minyak di sini yang telah beroperasi selama lebih dari 100 tahun, dihitung sejak pertama kali diusahakan oleh Belanda sampai sekarang.

Masing-masing tambang memiliki kedalaman yang berbeda dengan  paling dangkal adalah 200 meter. Tambang-tambang ini sebenarnya milik negara sehingga minyak yang dihasilkan tidak dapat dimiliki oleh warga, warga mendapatkan penghasilan dari upah pengangkutan hasil minyak dari tambang ke koperasi sebesar Rp 4.700,- per liter.

Pertamina melalui anak perusahaan mereka Pertamina EP Asset 4 Cepu Field yang memulai Geoheritage dengan tema petroleum sistem ini di Wonocolo. Mereka menyiapkan rumah singgah untuk traveler beristirahat dan 3 sumur percontohan bagi traveler yang ingin menyaksikan sendiri tahap-tahap penambangan mulai dari mengeluarkan minyak dari perut bumi hingga penyulingan minyak.

Selain itu, disediakan juga jeep bagi traveler yang ingin bertualang di sekitar pertambangan, atau sepeda bagi yang ingin lebih santai, serta lokasi berkemah di sekitar Puncak Wonocolo yang berada di ketinggian 450 meter dari permukaan laut.

Selain menikamti suasana pertambangan yang mirip di pedalaman Texas, Amerika Serikat, traveler juga bisa menikmati kuliner lokal unik yang terbentuk sebagai hasil kebudayaan para penambang, yakni nasi gulung. Nasi ini adalah bekal yang dibawa penambang, bentuknya berupa nasi yang digulung dalam berlapis-lapis daun supaya tidak cepat basi, hasilnya adalah nasi yang bentuknya menyerupai lontong dengan isi lauk pauk dan sambal.

Desa wisata Migas Wonocolo hanya berjarak 9 km dari Kota Surabaya dan dapat ditempuh dalam waktu 23 menit berkendara.


Reporter: Robby Sunata

Redaktur: Cahaya

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Annissa Nur Jannah
Reporter
Annissa Nur Jannah

KULINER