Salah Kaprah Tentang Veneer Gigi, Dokter: Tidak Melulu Putih

Salah Kaprah Tentang Veneer Gigi, Dokter: Tidak Melulu Putih - GenPI.co
Salah Kaprah Tentang Veneer Gigi, Dokter: Tidak Melulu Putih. Foto: Hafid Arsyid/GenPI.co

GenPI.co - Demi mendapatkan senyum manis menawan, kini orang berlomba-lomba melakukan metode perawatan gigi kelas wahid. Tak cukup dengan pembersihan karang gigi, kini terdapat metode veneer dengan biaya selangit.

Metode ini merupakan prosedur estetik yang dilakukan oleh dokter gigi untuk mengubah bentuk, fungsi dan warna gigi. Namun, seiring dengan meningkatnya permintaan pasar, kini muncul praktek veneer yang dilakukan oleh tenaga non medis. Akibatnya gigi terkesan menjadi putih pucat dengan gusi yang memerah.

BACA JUGARajin Sikat Gigi Tapi Masih Bau Mulut, Mungkin Karena ini

Smile designer dari Indo Dental Center, drg. Ivan Hadiutomo, Sp.KG menjelaskan metode veneer tak sekadar membuat gigi menjadi putih, melainkan membuatnya putih alami dan lebih sehat.

“Enggak semua punya pengetahuan mengenai estetika. Bagaimana bentuk mukanya, itu harus disesuaikan. Kami benar benar belajar estetika. Mulai bentuk wajah, warna kulit, warna mata, shape muka itu benar-benar disesuaikan dengan gigi.” ungkap dokter Ivan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (27/2/2020).

Selain soal estetik, menurut Ivan, sangat penting untuk memperhatikan presisi. Pasanya, jika metode ini dikerjakan asal-asalan dan tak presisi dampaknya gigi bisa keropos dan berlobang. Dalam kasus yang lebih parah, gusi bisa radang kemerahan akibat tekanan yang tidak sesuai dari lapisan veneer.

“Kita banyak bongkar veneer yang ngga presisi. Putih tapi baunya bukan main itu karena tidak presisi dan ada sisa makanan terselip. Tapi kalau restorasi dibuat presisi hasilnya bisa lebih natural,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, pendiri Indo Dental Center, drg. Leonard C. Nelwan, Sp. Pros., FISID, FITI menyebutkan, pengembalian fungsi gigi seperti veneer sebetulnya memiliki tiga fungsi. Selain fungsi estetika, ada pula fungsi mastikasi (pengunyahan) dan fungsi fonetik (berbicara-dipertimbangkan agar pasien tidak justru mengalami kesulitan bicara setelah prosedur).

Tonton video ini:

Berita Selanjutnya
Nusantara