Liputan Khusus

Memasang Baliho Kampanye Di Zaman Now, Efektifkah?

Milenial Cerdas, Saatnya Pilih Yang Peduli Pariwisata Indonesia
Ilustrasi alat peraga kampanye (Sumber: Antara)
Ilustrasi alat peraga kampanye (Sumber: Antara)

GenPI.co – Wajah-wajah cantik dan tampan para calon pemimpin daerah kian memenuhi pemandangan di se-antero jagat dalam frame sebuah spanduk, selebaran, atau baliho. Ya, momen ini berkaitan dengan pesta demokrasi yang bakal berlangsung April mendatang. 

Spanduk, baliho, selebaran gambar calon pemimpin dan calon legislator terpampang dimana-mana. Apakah media ini masih relevan untuk mengenalkan diri di zaman digital saat ini?

Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna, mengatakan, justru, media promosi seperti itu telah merusak keindahan wajah kota termasuk ibu kota Jakarta. “Poster, baliho dan spanduk itu sudah menjadi sampah visual. Sampah visual itu tidak ada nilai manfaat, dan menjadi persoalan siapa yang membereskan.” Ujar Yayat Supriyatna, Pengamat tata kota yang ditemui oleh GenPI.co di Universitas Trisakti, Senin (18/3).

Sangat disayangkan, di beberapa daerah jumlah alat peraga kampanye berupa spanduk caleg semakin tak terkendali. Mengapa bisa terjadi? Yang menjadi masalah, para pendukung itu sendiri, yang diminta oleh para paslon untuk menaruh gambar dimana-mana.

Yayat juga menjelaskan bahwa sebenarnya ada peraturan yang harus di patuhi oleh para calon. Bawaslu dan KPU sudah menetapkan rambu-rambu dan persyaratan untuk menempatkan gambar-gambar itu. Peraturan seperti itu seharusnya di taati oleh siapapun. Berdasarkan Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2013, pemasangan alat peraga kampanye, termasuk iklan-iklan yang berada di luar ruangan, dibatasi agar tetap menegakkan asas keadilan.

Dalam konteks komunikasi, media promosi seperti ini sering kali masih saja dianggap efisien. Baik dari segi biaya karena sangat murah, maupun dinilai mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, karena tidak semua mengenal media massa. Padahal, apakah dengan melihat wajahnya sesekali saja, sudah membuat calon pemilih mengetahui visi-misinya? Sehingga masih efektifkah menggunakan media itu di zaman sekarang yang sudah serba digital? Atau menjadi tanda, tak usah memilih caleg yang justru merusak lingkungan dan estetika?



Reporter : Annissa Nur Jannah

Redaktur : Maulin Nastria

RELATED NEWS