Ini Secuil Kisah Batik Tiga Negeri yang Langka

Pembuatan batik.
Pembuatan batik.

Tak berlebihan jika Batik Tiga Negeri  dari Lasem,   disebut sebagai sebuah masterpiece. Satu lembar kain batik memiliki perpaduan warna yang berbeda dan berasal dari tiga tempat yaitu, Pekalongan, Solo dan Lasem. Sebutan tiga negeri sendiri merujuk pada ketiga kota tersebut, yang pada jaman kolonial disebut negeri.

Batik Tiga Negeri menyuguhkan motif perpaduan bunga, daun dan aksen khas batik. Warna merah yang terdapat pada batik ini identik dengan Tionghoa. Pasalnya Lasem merupakan wilayah yang paling banyak dihuni oleh etnis Tionghoa dengan ciri khas merah di setiap perayaan dan busananya.

Untuk memperoleh warna biru maka pembatik harus menuju wilayah Pekalongan. Sementara warna sogan dan coklat, didapat wilayah Solo. Proses pembuatan batik ini tergolong langka lagi rumit, karena harus dilakukan di tiga daerah yang berbeda. Namun itu dulu. Sekarang proses produksi Batik TIga Negeri hanya dilakukan di Lasem saja.

Baca juga: Rumah Merah Bagian dari Sejarah Lasem

Di berbagai tempat, nama Batik Tiga Negeri ada penambahan kata Tjoa. Nama tersebut diduga seorang pendesain pada tahun 1940 silam. Menurut beberapa sumber literatur, Batik Tiga Negeri Tjoa berasal dari Solo dan diciptakan oleh Tjoa Giok Tjam pada 1910. Batik ini diciptakan dengan corak budaya di Lasem. Hal ini ditandai dengan motif kain batiknya yang berbentuk liuk buketan bunga yang mirip dengan motif Lasem. Itu karena Giok Tjiam berasal dari Lasem dan istrinya yang bernama Liem Netty berasal dari Solo.

Sayangnya, produksi batik ini terhenti di generasi ke tiga yaitu Tjoa Siang Swie di tahun 2014. Namun, mereka sebelumnya sudah memproduksi Batik Tiga Negeri sebanyak 750 kain batik. Penjualannya pun hingga ke Madura. Namun ketiadaan produsen saat telah menjadikan Batik Tga Negeri sebagai barang langka yang sulit dicari.

Reporter: Mia Kamila

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P

RELATED NEWS

My Trip Story

Oleh:
Annissa Nur Jannah
Reporter
Annissa Nur Jannah

KULINER