Melatih Fokus dan Kesabaran Bersama Komunitas Jemparingan

18 September 2019 01:11

GenPI.co - Ada pemandangan berbeda dari perayaan nyadran suran Festival Dasasura 2019 di desa Bomerto, Wonosobo, belum lama ini. Di sebelah timur panggung, tampak kain hitam membentang dengan ukuran kurang lebih 2x2 meter. Lurus di depan bentangan kain hitam itu, berjarak sekitar 20 meter ada sekelompok orang mengenakan pakaian Jawa yang sedang asyik memanah sambil duduk.

Tradisi panahan tersebut disebut jemparingan. Berbeda dengan panahan modern, para pemanah jemparingan harus memanah dengan posisi duduk, bisa bersila atau timpuh. 

Di Wonosobo, para penghobi jemparingan memiliki komunitasnya sendiri. Namanya Komunitas Pametri Jemparingan Djogonegaran Wonosobo. Komunitas yang sudah berdiri selama 3 tahun itu diketuai oleh Agus Wuryanto. 

Triyono Nanang Eka, salah satu mentor jemparingan mengungkapkan bahwa untuk bisa memanah sesuai sasaran, harus bisa fokus dan sabar. Ia menjelaskan, posisi duduk menghadap kanan, tangan kiri memegang busur dengan kemiringan 45 derajat, tapi tidak boleh menyentuh tanah.

“Tga jari : telunjuk, tengah, dan jari manis di tangan kanan menarik tali busur dengan kuat. Fokus, paskan sasaran dan lepaskan,”  katanya menginstruksikan dengan sabar pada setiap pengunjung yang ingin mencoba.

Sasaran panahan jemparingan ini bukanlah berbentuk lingkaran, tapi bentuknya adalah bandul putih dengan cat merah di ujungnya. 

Bukan cuma pengunjung yang penasaran ingin mencoba tradisi memanah kalangan keluarga Mataram ini. Tidak ketinggalan, tamu undangan yang turut hadir dalam acara nyadran suran Festival Dasasura turut pula mencobanya. Mereka antara lain Dandim 0707/Wonosobo Letkol Czi Wiwid Wahyu Hidayat, Kadisparbud One Andang Wardoyo, Danramil Wonosobo, Perwakilan Polsek Wonosobo,  dan Pj Kabes Bomerto Eko Widhi Nugroho.

Buk…buk.. buk.. buk… empat anak panah beriringan melesat kencang mengenai kain hitam. Bahkan, anak panah Dandim 0707/Wonosobo Letkol Czi Wiwid Wahyu Hidayat tepat mengenai bandulan. Semuanya bersorai dan bertepuk tangan.

PJ Kades Bomerto Eko Widhi Nugroho mengatakan jemparingan perlu dikembangkan. Sebab menurutnya, banyak masyarakat yang sangat awam terkait jemparingan. Padahal itu salah satu adat/budaya Jawa.

“ Kelihatanya gampang tapi ternyata memerlukan keahlian khusus. Space yang diperlukan juga tidak hrs lahan yan luas. Iklan-iklan ataupun brosur-brosur bisa digunakan untuk mengenalkan kembali apa itu jemparingan kepada masyarakat”, ucap PJ Kades Bomerto Eko Widhi Nugroho.

Eko menambahkan bahwa akan berkolaborasi dengan komunitas Jemparingan ini kembali, selain sebagai bentuk pelestarian budaya, ini juga merupakan atraksi yang menarik banyak pengunjung.

Desi Kristiana, salah satu anggota komunitas Jemparingan mengungkapkan bahwa Jemparingan ini kaya akan filosofi. Bukan hanya sebagai olahraga, memanah seperti ini bisa melatih ketajaman, konsentrasi, dan tentunya kesabaran. 

“Filosofinya adalah memanah bukan untuk melawan orang lain, namun melawan diri sendiri, karena saat kita akan menarik busur, sasaran yang kita lihat bukan hanya dengan mata, tapi juga dengan hati. Salah satu tips bisa belajar memanah adalah ikut komunitas. Keuntungannya, bisa melatih fokus, kesabaran, melatih percaya diri, dan bisa ikut melestarikan budaya,” ucapnya.

Jangan lewatkan video populer ini:

Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred

BERITA TERPOPULER

BERITA TERKAIT

Copyright © 2024 by GenPI.co