Serpihan Surga di Lereng Ungaran

Sudah pernah dengar tentang Kebun Teh Medini? Kamu yang tinggal di Semarang dan sekitarnya pasti nggak asing dengan tempat ini.  Kebun Teh Medini ini terletak di lereng gunung Ungaran sebelah utara. Tepatnya di desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal.

Nah hari Minggu (13/5) kemarin, ada acara jalan-jalan bareng GenPI Kendal dan para admin Instagram Kendal, guys. Tapi perjalanan itu nggak fokus hanya ke tempat itu saja. kami sebelumnya melakukan bakti sosial terlebih dahulu membersihkan sampah-sampah di sekitaran Curug Lawe yang masih berada di desa yang sama. Curug Lawe ini sangat potensial jadi destinasi wisata alam. Karena selain pemandangannya eksotis, hutan di sekitaran air terjun ini juga masih terjaga dengan baik.

Tapi jangan sampai salah yah, guys. Curug Lawe ini berbeda dengan Curug Lawe yang berada di Kalisidi, Kabupaten Semarang. Yang di Limbangan ini nama komplitnya adalah Curug Lawe Secepit. Tapi orang lebih suka menyebutnya Curug Lawe saja.

Nama Lawe Secepit ini ada ceritanya, guys. Menurut Pokdarwis setempat, ketinggian curugnya mencapai 25 meter. Kalau dalam bahasa Jawa disebut selawe. Sedangkan “Secepit” diambil dari nama lama dukuh tempat curug ini berada. Tapi sekarang sudah berganti nama menjadi Dukuh Gunungsari.

Biar nggak salah paham, baiknya kita menggunakan nama Lawe Secepit saja. Jadi, curug ini ini tergolong baru dan banyak orang yang belum tahu. Jadi kalau kamu lagi jalan-jalan ke Kebun Teh Medini, jangan lupa mampir ke curug ini dulu. Dari jalur Boja, pintu masuknya berada sekitar satu kilometer sebelum perkebunan teh. Sedangkan jarak dari pintu masuk ke lokasi curug kurang lebih 800 meter.

Kawasan Curug Lawe Secepit ini sangat asri, guys. Sepanjang perjalanan menuju ke curug itu,  kamu akan disuguhi pemandangan kebun penduduk. Setelah itu, ada jalan setapak dengan tebing dan jurang pada masing-masing sisinya. Pemandangan di situ keren abis! Kalau datang pagi-pagi, kamu bisa melihat burung-burung liar dan Owa Jawa atau lutung yang bergelantungan mencari makan di pohon-pohon sekitaran curug. Tempat ini juga ada kawanan kijang liar loh, guys. Tapi agak susah untuk menemukannya.

Nah, yang membuat menarik adalah mitos yang meliputi curug ini guys. Ada sebuah batu besar yang berada di tengah-tengah curug. Konon batu itu tidak pernah basah meski letaknya tepat di bawah jatuhnya air curug. Diceritakan Pokdarwis setempat, di bawah batu besar itu terdapat ‘emas ghaib’ sebesar angsa. Konon, pernah sekumpulan orang yang memancing emas itu dengan emas sebesar burung dara.  Alih-alih emas sebesar angsa itu tertarik keluar, yang terjadi malah umpan emas mereka yang tersedot ke dalam.

Ada mitos lain seputaran baru besar di curug itu. Katanya, kalau kita melewati batu itu dari sisi kiri menuju kanan, maka kita akan awet muda setelah membasuh muka. Wallahualam yah guys. Tapi lepas daari semua mitos itu, tempat ini menyuguhkan ketentraman jiwa. Itu adalah kekayaan yang nilainya melebihi emas segunung sekalipun. Jika jiwa tentram, wajah akan selalu berseri sehingga selalu tampak muda. Bener nggak, guys?

Di Curug Lawe Secepit, kami melakukan bakti sosial. Sampah yang tersisa di tempat itu kami singkirkan semuanya. Sungguh sayang tempat seindah itu ternoda kealamiannya oleh sampah sisa aktivitas pengunjung. Setelah beres semuanya, barulah kami melanjutkan perjalanan ke kebun teh Medini.

Meski sudah jamak dikunjungi, pesona kebun teh ini nggak pernah luntur. Sejauh mata memandang, hamparan hijau bagai permadani yang berpadu apik dengan birunya langit. Rasanya penat langsung lenyap tak bersisa. Benar kata orang, warna hijau dan biru adalah warna yang mampu menentramkan jiwa. Warna-warna yang juga mengingatkan kita kepada kebesaran Tuhan.

Bagi saya pribadi, perjalanan ini bukan soal mencari kegembiraan semata. Tapi juga betujuan  menemukan ketenangan hati dan perenungan. Demikian.

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS