Puncak Festival Bakar Tongkang Padat Wisatawan

Kota Bagansiapiapi, Rokan Hilir Provinsi Riau benar-benar semarak pada hari Sabtu (30/6) ini. Festival Bakar Tongkang sukses menyedot begitu banyak wisatawan lokal maupun asing. Jumlah wisatawan mebludak. Semua ingin mengikuti ritual membakar replika kapal tongkang  Sabtu (30/6).

Prosesi Bakar Tongkang adalah puncak dari Festival Bakar Tongkang 2018. Seperti yang diprediksi sebelumnya, atraksi ini akan menarik minat turis. Benar saja, semua berebut untuk memberikan yang terbaik bagi ritual itu.

Wisatawan benar-benar antusias menyaksikan atraksi ini. Kota Bagansiapiapi pun berubah menjadi lautan manusia. Aroma dupa-dupa memenuhi udara. Terutama sejak aktivitas sembahyang dan malam persiapan Bakar Tongkang. Perlengkapan ornamen Tionghoa pun memenuhi kota itu. Seketika kota itu tampak seperti sebuah China Town. Meriah sekali.

Replika perahu yang akan dibakar sudah siap. Tinggal menunggu eksekusi.  Hiasan-hiasan angpao yang bercorak keemasan serta merah, tersusun rapi di dekat tongkang. Seluruhnya disiapkan tanpa ada satu pun yang kurang sebagai syarat wajib prosesi bakar tongkang.

Menjelang siang, puluhan ribu orang bergerak menuju tempat pembakaran. Yaitu di jalan perniagaan Kota Bagansiapiapi. Warga di jalur arak-arakan pun menyambut arak-arakan. Tanpa segan mereka menyediakan minuman serta makanan gratis bagi para peserta.

Ketika kapal dibakar, peserta begitu antusias melihat arah tiang tongkang itu jatuh. Replika tiang layar tongkang yang dibakar jatuh ke arah barat. Menurut kepercayaan warga Tionghoa Bagansiapiapi, arah jatuhnya tiang menunjukkan keselamatan dan peruntungan usaha. Dimana peruntungan tahun ini berada di darat berdasarkan jatuhnya tiang.

Melihat wisatawan yang rela berdesak-desakan untuk ikut prosesi ritual Bakar Tongkang ini, Kepala Dinas Pariwista Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Riau, Fahmizal Usman tidak bisa menutupi kegembiraannya.

Menurut Fahmizal, lebih dari 52 ribu wisatawan datang untuk menyaksikan Bakar Tongkang. Hal ini menjadikan berkah tersendiri bagi Kota Bagansiapiapi.

"Perputaran uang selama Bakar Tongkang sangat besar. Hotel-hotel penuh. Pedagang kuliner, pedagang perlengkapan berdoa hingga para penarik becak semua kebanjiran rejeki. Ini tentunya menjadi tujuan utama dari pariwisata. Yaitu mensejahterakan masyarakat," ungkapnya.

Disinggung mengenai amenitas, Fahmizal mengungkapkan pihaknya mencoba untuk mengembangkan nomadic, sekaligus mendukung perhelatan Bakar Tongkang. Hal ini disebabkan selalu membludaknya wisatawan ketika berlangsungnya Bakar Tongkang.

"Kita cukup realistis. Tentu bukan hal yang mudah untuk membangun sebuah hotel dalam waktu singkat. Untuk itu kita akan mencoba nomadic amenitas dalam waktu dekat ini. Sampai saat ini sudah ada beberapa yang tertarik untuk mengembangkannya," ungkap Fahmizal.

Begitu juga dengan akses. Pihaknya optimis akses yang cukup jauh dari bandara terdekat akan semakin mudah nantinya. Sebab, proyek jalan tol yang menghubungkan Pekanbaru dengan Dumai segera dimulai. Yang tentunya akan memangkas waktu tempuh ke kedua kota tersebut.

"Insya Allah dalam 2 tahun ini jalan tol akan segera ada. Jadi dapat memangkas waktu tempuh ke Kota Pekanbaru atau pun Dumai yang telah memiliki akses udara. Sehingga wisatawan semakin nyaman ketika mengunjungi Bakar Tongkang," ujar Fahmizal.

Ketua Pelaksana Top 100 Calender of Event (CoE) Wonderful Indonesia Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuti yang hadir pada perhelatan itu juga tampak begitu bahagia.

Terlebih melihat begitu antusiasnya wisatawan mengikuti prosesi Bakar Tongkang. Menurutnya, ini merupakan salah satu alasan Bakar Tongkang masuk dalam Top 100 Calender of Event Wonderful Indonesia Kementerian Pariwisata.

Wanita berkerudung itu juga menyoroti perkembangan amenitas serta aksesibilitas di Riau. Menurutnya ini merupakan "pekerjaan rumah" yang harus segera diselesaikan oleh seluruh stakeholder terkait. Sehingga amenitas serta aksesibilitas Riau semakin mumpuni.

"Kekurangan memang terletak di aksebilitas. Cukup jauh, butuh ekstra effort menuju Bagansiapiapi dari Pekanbaru. Begitu juga dengan amenitas. Dengan membludaknya wisatawan tentunya juga harus diperhatikan. Karena itu juga merupakan salah satu aspek penting untuk kenyamanan wisatawan," pungkas Esthy yang juga Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kemenpar itu.

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS

KULINER

My Trip Story

Oleh:
Anggi Agustiani
Reporter