Suku Hubula yang Eksotis

Festival Lembah Baliem 2018 memiliki makna lebih dari sekadar atraksi budaya. Festival ini menjadi salah satu cara untuk menjaga kearifan lokal Papua. Masyarakat pun tetap bangga dengan budayanya.

“Masyarakat tetap mempertahankan budaya. Ini identitas kami. Beberapa budaya atau kebiasaan di sini ada yang berubah, tapi hanya fungsinya saja. Peperangan misalnya. Sekarang peperangan diubah jadi komoditi pariwisata,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jayawijaya Alpius Wetipo, Rabu (8/8).

Didiami oleh Suku Hubula, Lembah Baliem menjadi fenomena. Peperangan di Lembah Baliem menjadi budaya yang diatur dalam hukum Honai (rumah tradisional). Biasanya digunakan untuk menyelesaikan sengketa wilayah atau masalah lainnya. Secara garis besar ada 2 kelompok perang, yaitu perang saudara dan perang antar suku berbeda marga.

Untuk perang saudara, sengketa pun bisa diselesaikan langsung dengan membayar denda. Denda yang dibayarkan harta diantaranya babi. Namun, untuk peperangan antar suku berbeda marga akan diselesaikan melalui dalam Honai.

“Honai memang penting. Ada Honai perang. Hal ini memunculkan filosofi sakral terkait kepercayaan. Perang ini ada sisi positif dan negatif. Saat ini sisi positif yang diambil melalui nilai-nilainya. Dengan adanya agama dan pemerintahan, perang diubah jadi Tarian Perang. Berkisah keseharian warga lokal di sini. Secara hukum perang sudah tidak boleh, itu masa lalu,” jelasnya.

Alpius melanjutkan, terkait dengan baju adat, ini masih dipakai dalam keseharian. Namun, banyak juga masyarakat yang mengenakan busana biasa. Kami tetap bangga dengan baju adat dan asesorisnya.

“Bagi masyarakat di luar Papua mungkin aneh, tapi inilah budaya kami. Tuhan memberi baju adat dan kami pakai. Kami tidak telanjang karena ada penutupnya,”

Baju adat Suku Hubula terdiri dari beberapa bagian. Baju wanita diberi nama noken atau syu. Untuk pria biasanya memakai koteka atau holim. Melengkapi baju, seekam yang berbentuk rumbai ini biasanya dikenakan di lengan. Asesoris lainnya berupa gelang. Ada juga penutup kepala atau kare-kare yang terbuat dari bulu Burung Kasuari atau ayam.

Khusus bagi pemimpin pasukan, mereka memegang syuesi. Semacam tongkat komando yang terbuat bulu Burung Kasuari atau ayam. Ada juga walemo yang terbuat dari rangkaian kerang. Asesoris ini menutup dada dan dikenakan dengan cara dikalungkan.

Suku Hubula juga melengkapi diri dengan senjata. Ada sege atau tombak panjang yang terbuat dari kayu yoli. Panjangnya 1,5 meter hingga 2,5 meter dengan ujung runcing. Mereka juga membawa panah. Busurnya terbuat dari kayu mamau, lalu talinya memakai mul (rotan). Anak panah terbuat dari kayu vinteh dengan ujung runcing. Senjata lain, karok (parang) juga pisue (kapak).

Redaktur: Paskalis Yuri Alfred P



RELATED NEWS

KULINER